Kinetic Bamboo Structure 2.0: Inovasi Bambu dalam Sentuhan Teknologi AR dan VR

Avatar of Redaksi
IMG 20250807 WA0129
Rangka bangunan bambu yang dibuat oleh peserta Workshop. (Husni Habib/kabarterdepan.com)

Surabaya, kabarterdepan.com- Sejak dahulu bambu dikenal sebagai salah satu bahan material yang berkelanjutan (Sustainable), dan sering dimanfaatkan untuk mendirikan suatu bangunan. Namun hingga saat ini pemanfaatkan bambu masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan material lainnya.

Oleh sebab itu Petra Christian University (PCU) bekerja sama dengan Universitas Ciputra, Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) dan Xi’an Jiaotong-Liverpool University menggelar Bamboo Workshop: Kinetic Bamboo Structure 2.0.

Esti Asih Nurdiah, S.T., M.T., Ph.D., selaku PIC Bamboo Workshop: Kinetic Bamboo Structure 2.0 mengatakan acara ini merupakan program internasional yang diinisiasi oleh Unpar sejak tahun 2014, serta telah dilakukan berbagai kampus di beberapa kota dan negara.

“Di program ini, para peserta akan fokus belajar pada praktik dan eksplorasi dalam mengintegrasikan prinsip-prinsip desain kinetik ke dalam konstruksi bambu,” jelas Esti (07/08/2025)

Esti menambahkan tahun ini ada total 27 mahasiswa yang ikut berpartisipasi, dimana mereka dibagi kedalam 3 tim yang masing-masing tim berjumlah 9 orang. Masing masing membuat sebuah struktur bangunan dari bambu dengan cara yang berbeda-beda, ada yang mengerjakan secara manual, menggunakan VR dan terakhir AR.

Jika membangun secara konvensional/manual membutuhkan cetakan untuk bentuk-bentuk yang sulit. Dengan AR, model digital dipakai sebagai cetakan untuk pembangunan.

“Jadi AR dipakai pada tahap fabrikasi, yaitu tahap marking and coding batang bambu sebelum dirakit ke struktur yang utuh,” tambahnya.

Sementara itu salah satu peserta, Paramesti Yasmin menuturkan dalam workshop ini dirinya dan tim diberikan tugas membuat bangunan bambu dengan menggunakan VR. Salah satu kesulitan yang dihadapi adalah proses koneksi alat dan layar yang membutuhkan waktu cukup lama.

“Jadi walaupun terlihat mudah tapi penggunaan VR ini masih banyak kekurangan, dimana koneksi antara perangkat dan layar masih membutuhkan waktu yang lama,” pungkasnya.

Melalui proses belajar yang eksperimental dan kolaboratif ini, para peserta mendapat pengalaman secara langsung dalam merancang dan merakit struktur bambu yang adaptif. Unsur kinetis/gerakan yang ada dalam bambu tidak hanya dilihat sebagai sistem mekanik, melainkan sebagai ‘bahasa’ arsitektur yang menghasilkan bentuk estetis. (Husni Habib)

Responsive Images

You cannot copy content of this page