
Sleman, kabarterdepan.com – Bank Indonesia (BI) targetkan jangkau 58 juta pengguna Quick Response Code Indonesia Standard (QRIS) hingga akhir tahun.
Hal tersebut diungkapkan oleh Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta saat sambutan dalam peluncuran QRIS Tap di Hotel Royal Ambarukmo, Sleman, DIY, Senin (4/8/2025).
“Tahun 2025 ini kami menargetkan menjangkai 58 juta pengguna, 40 juta pedagang, 6,5 miliar transaksi sampai akhir tahun,” ujarnya katanya.
QRIS disebutnya mendapat respon baik dari masyarakat. Pada semester I 2025, total pengguna QRIS mencapai 57 juta pengguna.
Pengguna layanan disebutnya didominasi oleh para pedagang dan merchant menjadikan QRIS sebagai sarana pembayaran dengan total 39,3 juta pengguna.
Sementara total transaksi yang dihasilkan sebesar Rp579 triliun.
QRIS disebutnya telah diimplementasikan juga secara global, terutama beberapa di negara Asia Tenggara, seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand.
Luncurkan QRIS Tap dan Kick Off Jelajah Indonesia
Filianingsih menyampaikan bahwa QRIS Tap memberikan kemudahan transaksi bagi masyarakat.
Perluasan layanan disebutnya dilakukan menjangkau dunia transportasi. Ia menyampaikan hingga bulan Juli 2025, QRIS Tap telah diimplementasikan di berbagai moda angkutan umum, mulai dari Teman Bus, Damri, Royal Trans, MRT Jakarta.
Inovasi yang ada pada QRIS Tab disebutnya melengkapi QRIS versi sebelumnya dengan diperkuat hadirnya sistem Merchant Presented Mouth (MPM), Customer Presented Mouth (CPM), Tanpa Tatap Muka (TTM), dan tarik Tunai Setor dan Deposit (Tuntas).
“Sejak diluncurkan pada Maret lalu, ini dampaknya signifikan, dan susah diimplementasikan ratusan ribu merchant maupun retail seluruh Indonesia,” katanya.
Selain itu, pihaknya juga meluncurkan QRIS Jelajah Nasional yang bertujuan untuk mengemas kekayaan yang dimiliki nusantara. Ia menyebut digitalisasi harus bisa selaras dengan nilai-nilai budaya lokal yang ada di masyarakat.
Melalui program tersebut, BI ingin mengajak masyarakat bertransaksi digital sembari berwisata.
“Ini akan kami kemas dalam misi edukatif untuk mendukung adopsi melalui sistem pembayaran digital,” katanya.
Digitalisasi bukan sebuah ancaman zaman, namun justru sebagai cara efektif sebagai sarana melestarikan budaya. (Hadid Husaini)
