
Sampang, kabarterdepan.com – Penanganan awal terhadap gejala penyakit jantung menjadi penentu keselamatan pasien.
Hal itu diungkapkan oleh dr. Amelia Ina Sadiati, SpJP, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah yang saat ini aktif melayani pasien di Klinik Amin Medical Center dan RSUD dr. Mohammad Zyn (RSMZ) Sampang.
Dalam wawancara bersama kabarterdepan.com pada Sabtu (2/8/2025), dr. Amel sapaan akrabnya, mengimbau masyarakat untuk tidak menganggap remeh gejala seperti sesak napas atau nyeri dada. Menurutnya, keluhan tersebut bisa menjadi pertanda awal serangan jantung.
“Gejala nyeri dada atau sesak napas itu bisa jadi merupakan tanda awal penyakit jantung, bukan sekadar asam lambung. Maka sebaiknya segera diperiksakan ke fasilitas kesehatan untuk dilakukan rekam jantung,” jelasnya.
Ia menambahkan, banyak orang sering keliru membedakan gejala serangan jantung dan asam lambung, terutama jika dipicu oleh makanan pedas atau konsumsi kopi.
“Memang betul, makanan pedas dan kopi bisa memicu asam lambung yang gejalanya mirip dengan serangan jantung. Untuk itu, diagnosis harus dipastikan oleh tenaga medis agar penanganannya tepat dan cepat,” tegas dr. Amel.
Ia juga menjelaskan pentingnya tindakan pertolongan pertama ketika menghadapi seseorang yang menunjukkan tanda-tanda serangan jantung. Jika pasien mendadak merasa nyeri dada atau sesak saat berdiri, sebaiknya segera dibaringkan atau didudukkan, lalu minta pertolongan ke faskes terdekat atau bawa langsung ke rumah sakit.
Jika situasi sudah darurat, misalnya pasien pingsan atau jatuh, dr. Amel menganjurkan agar segera memeriksa denyut nadi di leher dengan dua jari selama maksimal 10 detik. Bila denyut tidak terasa atau sangat lemah, lakukan tindakan Resusitasi Jantung Paru (CPR).
“Letakkan tangan menggenggam di tengah dada, lalu lakukan 30 kali kompresi. Jika sebelum hitungan ke-30 pasien sudah sadar, segera bawa ke rumah sakit. Kalau belum sadar, lanjutkan sampai bantuan medis datang,” terang dr. Amel.
Saat ditanya apakah CPR bisa dilakukan oleh masyarakat umum, dr. Amel menjawab bisa. Bahkan menurutnya, di luar negeri, anak-anak pun sudah diajarkan tindakan dasar pertolongan pertama seperti Basic Life Support (BLS).
“Edukasi tentang BLS perlu diberikan ke masyarakat luas. Ini penting agar masyarakat bisa jadi bagian dari penyelamat nyawa, khususnya dalam kasus serangan jantung mendadak,” pungkas dr. Amel. (Fais)
