
Yogyakarta, kabarterdepan.com – Sejumlah warga di Yogyakarta menanggapi batas kemiskinan melalui hasil pengeluaran harian rata-rata nasional sebesar Rp20 ribu per kapita per hari oleh Badan Pusat Statistik (BPS).
Data tersebut berdasarkan Servey Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) pada Maret 2025 dengan garis kemiskinan tercatat sebesar Rp609.160 per kapita per bulan dan Rp20.305 per hari.
Totok, seorang pria asal Kemantren Danurejan, Kota Yogyakarta yang setiap hari mendapatkan penghasilan Rp50-100 ribu dari pekerjaan sebagai driver Ojek Online (Ojol) dan juru parkir (jukir).
Untuk kebutuhan harian, ia mengaku hanya mengeluarkan biaya sebesar Rp40 ribu. “Sehari Rp40 ribu, untuk anak sama istri, anak 2 udah pisah semua,” katanya saat diwawancarai pada Kamis (31/7/2025).
Melihat kondisi tersebut, standar kemiskinan yang dikeluarkan oleh BPS memasukkan Totok sebagai orang mampu, karena memiliki pengeluaran di atas Rp20 ribu.
Kondisi tersebut membuatnya harus pintar dalam mengatur keuangan, terutama dalam hal mengisi perut.
“Makan dari rumah, masak sendiri,” katanya.
Ia sendiri menyampaikan penggolongan kategori mampu berdasarkan pengeluaran lebih Rp20 ribu perhari tidak masuk akal. Terlebih bahwa saat ini berbagai kebutuhan pokok cukup mahal.
“Bayam aja sekarang Rp5 ribu (per kilo),” katanya.
Ia mengaku pusing jika menghadapi musim kondangan di sekitar kampungnya karena selalu mengeluarkan uang untuk sumbangan.
“Waktu Safar itu banyak yang nyumbang,” (kondangan), dari Suro kemarin udah 7 yang nembak,”katanya.
Meskipun dengan kondisi pas-pasan, ia mengaku tidak ingin disebut sebagai orang miskin.
“Jujur saya sakit kalau dibilang miskin,”katanya.
Ia menyampaikan berbabagai pengalaman hidup pernah ia alami hingga ke Jakarta.
“Berbagai pengalaman sudah, yang belum munggah kaji (naik haji). Saya percaya surga sama Gusti Allah,” katanya.
Meskipun harus berjerih payah, Totok meyakini niat baik akan terwujud. Dirinya juga berkeinginan agar bisa merealisasikan qurban pertamanya pada Idul Adha berikutnya.
Maya, penjual angkringan di Baciro, Kota Yogyakarta mengaku kurang sepakat dengan kategori mampu yang dikeluarkan oleh BPS.
Maya seorang penjual angkringan asal Baciro, Kota Yogyakarta mengaku kategori BPS terkait batas kemiskinan sebesar Rp20 ribu tidak tepat.
Ia mengaku setiap hari kebutuhan makan yang harus ia keluarkan Rp20 ribu. Sementara untuk berjualan, ia menghabiskan biaya hingga Rp200 ribu.
“Ya nggak juga sih dianggapnya udah kaya, itu dah dibilang kaya nggak tepat,” jelasnya.
Ia menyampaikan bahwa pemerintah belum melihat kondisi masyarakat secara utuh. “Pemerintah hanya melihat dari data saja, nggak langsung ke setiap orang, setiap KK,” katanya.
Hal tersebut menurutnya membuat bantuan Keluarga Menuju Sejahtera (KMS) untuk meringankan pendidikan anak yang sempat ia terima, terpaksa dicabut. (Hadid Husaini)
