
Yogyakarta, kabarterdepan.com – Berhentinya pihak swasta dalam mengangkut sampah di Kota Yogyakarta menjadi perhatian masyarakat.
Hal ini karena jumlah sampah di Kota Yogyakarta yang sempat menurun kini kembali meningkat usai pihak swasta asal Panggungharjo, Sewon, Bantul tersebut tak lagi beroperasi.
Plt Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta Agus Tri Haryono akan meminta pengambil sampah atau transporter untuk berhenti mengambil sampah dari masyarakat jika tidak mau mengolah dan memilah.
“Transporter kalau masyarakat nggak memilah jangan diambil, itu harus tegas,” katanya saat diwawancarai wartawan pada Selasa (29/7/2025).
Layanan tersebut melakukan pengambilan sampah mulai dari rumah hingga hotel. Berhentinya pengolahan sampah tersebut membuat sampah kembali ke pemerintah.
Kota Yogyakarta sebagai wilayah aglomerasi juga menjadi sasaran pembuang sampah dari luar kota.
“Kalau sama kita 260 ton, yang kita kelola 200 ton dan itu sudah sangat signifikan sebagai wilayah aglomerasi DIY, karena cakupan kita sudah 90 persen,” katanya.
Pihaknya menyampaikan telah melakukan pengurangan sampah dengan program Masyarakat Jogja Olah Sampah (Mas Jos) di Kemantren Pakualaman yang telah berhasil mengurangi sampah secara drastis.
Program tersebut melibatkan 4 pilar mulai dari Pemerintah Kota Yogyakarta, Secerah Harapan Indonesia (Shind) Yogyakarta selaku lembaga swadaya masyarakat, Mataram Konten Kreator, dan Forum Bank Sampah (FBS).
Pihaknya menyebut akan melakukan duplikasi di 14 Kemantren lainnya.
Selain itu, Pemkot Yogyakarta telah melakukan pengolahan sampah melalui Unit Pengelolaan Sampah (UPS) di beberapa lokasi dengan berbagai kapasitas dalam mengelola sampah.
“Kalau Nitikan itu 60 ton, di Kranon 25-30 ton, kalau Karang Miri 15 ton, di Giwangan 25 ton kalau yang ada di Sitimulyo (Bantul) 60 ton disana,” ujarnya.
Hal tersebut sebagai wujud komitmen Pemkot Yogyakarta dalam mengatasi sampah dari sektor hilir. (Hadid Husaini)
