Makan Tempe Mentah, Tren Sehat atau Justru Berisiko?

Avatar of Lintang
Ilustrasi bahan pokok tempe. (Freepik)
Ilustrasi bahan pokok tempe. (Freepik)

Kesehatan, Kabarterdepan.com – Tempe, panganan fermentasi kedelai yang khas Indonesia, telah lama dikenal sebagai sumber protein nabati yang ekonomis namun kaya nutrisi. Lebih dari sekadar protein, tempe menyimpan segudang kebaikan lain, termasuk antioksidan isoflavon, probiotik, serat, lemak sehat, serta berbagai vitamin dan mineral esensial seperti vitamin B2, vitamin B6, folat, magnesium, zat besi, dan zinc. Tak heran, tempe menjadi sajian favorit yang tak terpisahkan dari meja makan keluarga di seluruh Nusantara.

Secara umum, tempe diolah melalui berbagai metode memasak, mulai dari digoreng, direbus, hingga dikukus, untuk meningkatkan cita rasa sekaligus memastikan keamanannya. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, muncul tren konsumsi tempe mentah yang dipilih oleh sebagian orang, baik sebagai pelengkap sambal lalapan maupun disantap langsung. Fenomena ini memunculkan pertanyaan krusial: apakah mengonsumsi tempe mentah benar-benar lebih unggul dari segi kesehatan dibandingkan tempe yang telah dimasak?

Secara nutrisi, kandungan gizi tempe mentah sejatinya tidak jauh berbeda dengan tempe yang sudah dimasak. Memang, proses pemanasan berpotensi mengurangi beberapa nutrisi peka panas, seperti vitamin B2, vitamin B6, folat, dan sebagian antioksidan. Namun, perlu ditekankan bahwa penurunan nutrisi ini tidak signifikan. Artinya, nilai gizi pada tempe yang telah matang tetaplah tinggi dan sangat bermanfaat bagi tubuh.

Sebaliknya, ada aspek yang patut diwaspadai dari konsumsi tempe mentah. Tempe, dalam bentuk mentahnya, mengandung zat antinutrisi seperti asam fitat. Senyawa ini memiliki kemampuan untuk menghambat penyerapan mineral penting oleh tubuh, termasuk zat besi dan zinc. Jika konsumsi tempe mentah dilakukan secara rutin dan dalam jangka panjang, hal ini berpotensi memengaruhi asupan nutrisi esensial bagi tubuh.

Risiko Kesehatan yang Mengintai dari Tempe Mentah

Selain isu penyerapan mineral, konsumsi tempe mentah juga membawa risiko kesehatan lain yang tidak bisa diabaikan, terutama jika proses produksi atau pengolahannya kurang higienis. Potensi kontaminasi oleh bakteri, jamur, atau parasit menjadi ancaman nyata.

Mengonsumsi makanan yang terkontaminasi mikroorganisme patogen dapat berujung pada keracunan makanan. Kondisi ini sangat rentan dialami oleh kelompok individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lebih lemah, seperti ibu hamil, anak-anak, lansia, serta penderita kanker atau HIV. Gejala keracunan makanan meliputi diare, mual, muntah, sakit perut, dan demam. Lebih lanjut, pada beberapa individu, konsumsi tempe mentah juga dapat memicu reaksi alergi dengan manifestasi seperti ruam kemerahan, gatal-gatal, atau pembengkakan di area tubuh tertentu.

Rekomendasi Konsumsi yang Aman dan Optimal

Mengingat berbagai potensi risiko yang menyertai konsumsi tempe mentah, sangat disarankan untuk memasak tempe hingga matang sempurna sebelum disantap. Proses memasak yang tepat tidak hanya menjamin keamanan, tetapi juga tetap mempertahankan sebagian besar kandungan nutrisinya. Untuk menjaga nilai gizi tempe tetap optimal, cukup masak tempe dengan api sedang selama beberapa menit hingga matang.

Dengan demikian, mengolah tempe secara higienis dan memasaknya hingga matang adalah langkah bijak untuk memastikan Anda mendapatkan seluruh manfaat gizi tempe tanpa mengorbankan kesehatan. Tempe akan terus menjadi primadona protein nabati yang aman dan menyehatkan bagi keluarga Indonesia. (*)

Responsive Images

You cannot copy content of this page