Keluh Kesah Ratusan Petani Lansia di Grobogan: Jalan itu Nafas Kami Jangan Ditutup

Avatar of Redaksi
Screenshot 20250727 045121
Suasana aksi damai ratusan petani di kawasan PT Azam Laksana Intan Buana (ALIB) di Desa Sugihmanik, Kecamatan Tanggungharjo, Kabupaten Grobogan.(Masrikin/kabarterdepan.com)

Grobogan, kabarterdepan.com – Ratusan petani tradisional turun ke jalan dalam aksi damai di Desa Sugihmanik, Kecamatan Tanggungharjo, Kabupaten Grobogan, Sabtu (26/7/2025).

Mereka menuntut satu hal sederhana namun krusial, agar akses infrastuktur jembatan penghubung lahan pertanian yang telah digunakan bertahun-tahun sejak 1980 tidak ditutup oleh PT Azam Laksana Intan Buana (ALIB).

Bagi para petani sepuh ini, jalan tersebut bukan sekadar jalur biasa, tanah itu adalah urat nadi kehidupan. Tanpa jalan itu, mereka kehilangan koneksi dengan sawah yang menjadi sumber nafkah turun-temurun.

“Kami ini sudah tua, tak bisa naik motor atau sepeda. Jalan itu satu-satunya akses kami ke sawah. Jangan ditutup,” tegas Nenek Asrini (74), matanya memerah, suaranya bergetar menahan emosi.

Di tengah terik dan usia senja, para petani meluapkan isi suara hati. Mereka menolak perjanjian lama antara pemerintah desa dan pihak perusahaan yang dianggap tidak melibatkan warga pengguna langsung jalan tersebut.

Perjanjian itu disebut-sebut sebagai dasar pengalihan akses ke jalur lain yang memutar hingga 3 kilometer, tidak seperti sebelumnya yang bisa ditempuh dengan waktu yang singkat.

“Kami ini jalan kaki setiap hari. Kalau harus muter sejauh itu, apa tega? Badan kami sudah tak sekuat dulu,” ujar Sumarno (69), sembari mengelus dada.

Lebih dari sekadar keluhan fisik, aksi ini menyuarakan kekecewaan mendalam terhadap kebijakan yang dirasa tak berpihak. Dalam konteks nasional, mereka mempertanyakan komitmen terhadap ketahanan pangan dan keberpihakan kepada petani kecil.

“Kalau negara ingin mandiri pangan, petani jangan disulitkan. Akses ke sawah itu kunci kami bertahan,” kata Margianto (50), perwakilan warga.

Hingga keputusan final ditentukan, suara-suara para petani ini tetap menggema, bukan untuk menuntut kemewahan, tapi sekadar mempertahankan hak atas jalan tanah yang telah menjadi bagian dari hidup mereka puluhan tahun lamanya

Di tengah harapan akan keadilan, perusahaan PT ALIB menyatakan sedang mengkaji permintaan warga dan membuka opsi pembukaan kembali akses tengah, sembari menunggu pertemuan lanjutan.

“Kami sudah melakukan komunikasi. Pertemuan lanjutan akan dilakukan Selasa, 29 Juli 2025,” ujar Iwan Dwi Suprayitno, perwakilan PT ALIB.

Sementara itu, aparat kepolisian tetap menjaga aksi berjalan damai. Kapolsek Tanggungharjo, AKP Anang Heriyanto, menyampaikan komitmennya untuk memfasilitasi solusi yang adil.

“Kami harap pertemuan nanti menghasilkan kesepakatan yang berpihak pada petani. Pertanian adalah kebutuhan utama warga, dan harus jadi prioritas bersama,” ujarnya. (Masrikin).

Responsive Images

You cannot copy content of this page