Warga Mojokerto Keluhkan Air Sumur Keruh, Diduga Tercemar Limbah Gudang Berlogo Marinir : Ada Apa?

Avatar of Redaksi
Puluhan emak-emak mendatangi gudang di Dusun Pandisari, Desa Sawo, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, Kamis (17/7/2025) pagi (Redaksi / Kabarterdepan.com)
Puluhan emak-emak mendatangi gudang di Dusun Pandisari, Desa Sawo, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, Kamis (17/7/2025) pagi (Redaksi / Kabarterdepan.com)

Kabupaten Mojokerto, Kabarterdepan.com – Puluhan ibu-ibu di Dusun Pandisari, Desa Sawo, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, resah. Air sumur mereka mendadak keruh dan tak layak pakai. Kecurigaan mengarah pada aktivitas sebuah gudang tak jauh dari permukiman, yang bahkan disebut-sebut berlogo Marinir.

Puncaknya, pada Kamis (17/7/2025) pagi, warga ramai-ramai mendatangi gudang tersebut untuk mencari tahu. Namun, mereka tak menemukan satu pun pengelola atau pemilik di lokasi.

Salah satu warga terdampak, Lilik Sobiro (50), menceritakan awal mula permasalahan.

“Dulu tuh cuma bau menyengat tapi tidak setiap hari, kalau anginnya ke sini baunya menyengat tapi itu saya maklumi,” ungkap Lilik pada Senin (21/7/2025).

Namun, kondisi semakin parah. Air sumur yang tercemar kini menyebabkan gangguan kesehatan serius, termasuk gatal-gatal di tubuh.

“Terus lama-lama sumber mata air terkena, dampaknya gatal-gatal setelah dibuat mandi, tidur di muka itu matanya lengket,” keluhnya.

Akibatnya, warga terpaksa merogoh kocek lebih dalam untuk memenuhi kebutuhan dasar.

“Setiap hari minta kiriman dengan beli air dari galon buat mandi sehari-hari dan masak,” imbuh Lilik. Ia berharap pihak terkait, terutama pengelola gudang, bertanggung jawab penuh.

“Harapannya, saya minta pertanggungjawaban bagaimana caranya sumber mata air kembali jernih semula,” tegasnya.

Penjelasan Pengelola Gudang : Bantah Produksi Limbah

Menanggapi keluhan warga, salah satu pengelola gudang yang diketahui bernama Nur, memberikan penjelasan singkat usai mediasi. Nur mengaku hanya bertugas sebagai pelaksana dan tidak mengetahui secara rinci aktivitas di lokasi.

“Saya hanya pelaksana saja, kurang tahu masalahnya. Saya di situ cuma kerja,” ujarnya.

Nur juga membantah tudingan adanya proses produksi limbah di gudang tersebut. Menurutnya, aktivitas yang dilakukan hanyalah pengolahan sisa makanan untuk pakan ternak.

“Tidak produksi, cuma di situ saya kan punya usaha bikin soto. Ada sisa-sisa makanan yang dijadikan pakan ternak,” tandasnya.

Kasus pencemaran air sumur ini menjadi sorotan warga Mojokerto. Pertanyaan besar masih menggantung: jika bukan dari gudang, lantas dari mana sumber pencemaran ini?

Dan bagaimana nasib puluhan keluarga yang kini harus membeli air untuk kebutuhan sehari-hari?

Publik menanti tindak lanjut dari pihak berwenang untuk mengusut tuntas dugaan pencemaran lingkungan ini.

Responsive Images

You cannot copy content of this page