
Kota Surabaya, Kabarterdepan.com – Enam mahasiswa Manajemen Universitas Airlangga angkatan 2024 sukses mencuri perhatian lewat karya kreatif mereka.
Produk bernama Vest to Go ini merupakan rompi multifungsi yang dapat diubah menjadi totebag, dirancang sebagai bagian dari tugas akhir mata kuliah Kewirausahaan.
Magda, salah satu anggota tim, menjelaskan bahwa proyek ini merupakan syarat pengganti ujian akhir semester.
“Kita semua diwajibkan bikin satu produk usaha yang bisa dijual, target omsetnya dua juta rupiah. Puncaknya dipresentasikan di Expo Kewirausahaan,” ujar Magda ditemui, Kamis (17/7/2025).
Awalnya, ide produk masih berubah-ubah. Namun tim akhirnya memilih konsep utama: satu produk, multifungsi. Mereka kemudian melakukan riset di media sosial dan menemukan bahwa produk fashion multifungsi punya peluang besar di pasaran.
Tantangan muncul saat mereka harus menyesuaikan produk dengan tema kelas, yaitu “Padang”. Tim berupaya keras menggabungkan nilai budaya Minang dalam desain modern agar tetap menarik secara visual dan relevan dengan target pasar.
“Vest-nya tetap modern tapi tetap bawa unsur budaya. Kita ingin bentuknya tidak aneh walau ada unsur Padang di situ,” ujar Magda.
Selain unsur budaya, inspirasi juga datang dari kebiasaan anak rantau yang kini harus membawa tas belanja sendiri karena kantong plastik tidak lagi disediakan di minimarket. Dari situlah ide fashion ramah lingkungan pun muncul.
Dengan harga Rp150.000, vest ini tidak hanya berfungsi sebagai pakaian, tetapi juga sebagai totebag yang kuat dan tahan lama.
Bahannya terdiri dari kain jeans dengan lapisan furing katun serta resleting kokoh agar mampu membawa barang berat seperti laptop, botol minum, dan belanjaan.
Dalam proses pengerjaannya, tim membagi tugas menjadi tiga sub utama: produksi, marketing, dan keuangan. Meski begitu, semua anggota tetap saling bantu karena keterbatasan sumber daya manusia.
“Kadang harus saling backup karena ada yang tidak bisa. Tapi pembagian tugas tetap jalan,” jelasnya.
Selama hampir satu semester atau 14 pertemuan, proyek ini digarap mulai dari produksi, penjualan, hingga laporan akhir. Tim mengaku bersyukur tidak harus mengganti ide di tengah jalan seperti beberapa kelompok lain.
Tantangan terbesar, menurut Magda, adalah waktu. Mereka harus menyesuaikan jadwal masing-masing anggota dan mengurus vendor, produksi, hingga tempat jualan.
Material awal seperti kain drill sempat diuji coba, namun dianggap tidak cocok untuk anak muda.
Akhirnya mereka memilih kain jeans yang dinilai lebih kuat dan universal. Setelah beberapa kali revisi prototipe, ukuran dan daya tahan produk pun berhasil diperbaiki.
“Vest ini one size, dan kita coba langsung ke beberapa anggota tim. Hasilnya pas dan nyaman saat dipakai,” ucapnya.
Pada puncak acara, tim berhasil masuk tiga besar kategori “Produk Terinovatif”. Mereka menilai keberhasilan ini karena produk mereka berbeda dan belum banyak dijual secara umum, bahkan di marketplace besar seperti Shopee.
“Secara fungsi dan filosofi, kita yakin ini layak diapresiasi. Senang sekali bisa masuk tiga besar,” kata Magda.
Meski belum ada rencana konkret untuk melanjutkan produk ini secara komersial, Magda tidak menutup kemungkinan untuk dikembangkan lebih lanjut. Namun, menurutnya, akan butuh banyak pertimbangan jika ingin menjualnya sebagai produk nyata.
Sebagai penutup, Magda menyampaikan bahwa pengalaman ini mengajarkannya banyak hal. “Seru banget bisa lihat ide yang awalnya cuma konsep, terus jadi nyata. Dari nol sampai siap jual, itu proses yang berkesan,” tutupnya. (Ceci)
