Pawai Alegoris 2025 Hidupkan Kembali Cerita Kejayaan Perak Kotagede Yogyakarta yang Melegenda

Avatar of Redaksi
IMG 20250712 WA0154
Salah satu sanggar peserta Pawai Alegoris 2025 di Kotagede, Kota Yogyakarta, DIY, Sabtu (12/5/2025). (Hadid Husaini for kabarterdepan.com)

Yogyakarta, kaberterdepan.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta berupaya melakukan penguatan akan poten Kotagede sebagai sentra pengrajin perak yang punya sejarah panjang, salah satunya dengan diselenggarakannya  Pawai Alegoris 2025 dengan semangat “Silver Harmony”.

Kegiatan tersebut kembali digelar pada Sabtu (11/7/2025) dengan menampilkan peragaan yang menceritakan kejayaan Kotagede sebagai penghasil produk perak.

Ribuan pengunjung diajak untuk berimajinasi dengan tampilan-tampilan yang disajikan oleh para penampil dari masing-masing sanggar yang dibalut dengan kostum yang menawan.

Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan dalam sambutanya mengapresiasi event tersebut.

Ia berharap agenda tersebut bisa digelar lebih meriah pada tahun-tahun mendatang. Ia berupaya untuk terus menjaga potensi lokal berbasis kreatif yang ada di Kotagede perlu dilakukan bersama-sama.

“Kita perlu membangun komitmen bersama dimulai dari masyarakat kotagede sendiri dengan gerakan masyarakat, tidak hanya top down,” katanya.

Dirinya mengaku senang bahwa Kotagede sudah memiliki prestasi yang dibanggakan, bahkan hingga internasional dari tangan perajin bernama muda bernama Sweda.

“Kotagede memiliki perajin kreatif bernama Sweda, ini yang membuat trophy GP Mandalika, bahkan tidak banyak yang tahu. Prestasi Kotagede melegenda dan juga mendunia,” ujar Wawan.

Meskipun dibranding sebagai kawasan perajin perak, Wawan menyampaikan beberapa wilayah lainnya juga memiliki sentra kerajinan perak.

Potensi produksi tersebut menurutnya perlu untuk terus dipupuk dan tidak hanya menjadi ego sektoral di masing-masing kawasan.

Ketua Komisi A DPRD Kota yogyakarta Susanto Dwi Antoro dalam kesempatan tersebut melihat Pawai Alegoris mampu menyedot banyak perhatian masyarakat untuk datang.

Kondisi tersebut menjadi ruang bagaimana kawasan Kota Yogyakarta bagian selatan memiliki pijakan potensi wisata yang kuat.

Kendati begitu, sejumlah catatan dilontarkan, seperti kondisi lokasi pawai yang terbatas di kawasan Pasar Kota Gede.

Hal tersebut meminimalkan ruang gerak dari para seniman yang menampilkan pertunjukannya.

“10 sanggar sudah maksimal, hanya koreksi saya, bagaimana space lahan ini ya secara kasat mata melihat antusias penonton sangat besar,” katanya.

“Hingga ke depan, kami punya inisiasi untuk bergeser, tidak selalu di depan Pasar Kotagede, tapi di depan XT Square,” katanya.

Ia berharap kegiatan tersebut bisa terus bergulir dan menjadi agenda penting dalam calendar of event di Kota Yogyakarta dengan berbagai skema biaya, baik Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), Corporate Social Responsibility (CSR), maupun Dana Keistimewaan (Danais).

Kolaborasi yang terwujud untuk penyelenggaraan kegiatan tersebut menurutnya menambah nilai yang terbangun.

“2026, harapan kami lebih meriah lagi lewat topinim Kotagede ataupun kawasan Yogyakarta Selatan,”katanya.

“Tahun depan mungkin bisa mengangkat tema pergerakan kuliner di Kotagede. Karena banyak potensi kuliner tapi tapi belum terangkat,” kata Susanto. (Hadid Husaini)

Responsive Images

You cannot copy content of this page