
Kabupaten Mojokerto, Kabarterdepan.com – Di tengah hiruk-pikuk kehidupan desa, siapa sangka sebuah saluran irigasi bisa berubah menjadi destinasi wisata murah meriah yang menenangkan hati. Itulah yang bisa ditemukan di Desa Kauman, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto.
Di sini, tak perlu tiket masuk, pengunjung cukup datang, duduk santai, dan memberi makan ikan-ikan yang berenang di saluran irigasi yang jernih dengan membeli pakan ikan yang dijual di sekitar lokasi.
Saluran air yang dulunya hanya mengalirkan air sawah kini disulap warga menjadi tempat bersantai yang alami. Suasananya sejuk, rindang oleh pepohonan di sekitarnya, dan yang paling menarik ialah pengunjung bisa memberi makan ikan-ikan hias yang berenang bebas di aliran air.
Salah satu pengunjung, Fanny Dwi Cahyani (20), warga Desa Sumberkarang, Kecamatan Dlanggu, yang datang pagi itu. Ia duduk santai di pinggir irigasi sambil sesekali menaburkan pelet ke air bersama temannya.
“Mengisi waktu luang, kerjanya nanti sore,” ucapnya sambil tersenyum, Sabtu (5/7/2025) pagi.
Ia mengaku, mengetahui lokasi ini sejak dirinya duduk di bangku sekolah SMP. Bahkan 5 tahun yang lalu lokasi ini juga sempat viral di media sosial.
“Dulu sekolah di Bangsal sini, jadi tau kalau di sini ada tempat nyantai. Suasana sejuk, bisa ngasih makan ikan,” tambahnya.

Pakan ikan dijual oleh warga sekitar dengan harga sangat terjangkau, mulai dari Rp2.000 hingga Rp10.000 per bungkus. Uang dari penjualan itu digunakan untuk merawat kebersihan dan kelangsungan hidup ikan-ikan tersebut.
Yang membuat tempat ini istimewa adalah keberlanjutan dan perhatian warga. Ikan-ikan tak dibiarkan mati atau hanyut terbawa arus. Setiap hari ada warga yang memantau kebersihan dan kondisi air.
“Di tempat lain kayaknya tidak ada, mungkin ya mati atau hilang ikannya kalau tidak dirawat,” tambah Fanny.
Meski tak memiliki wahana mewah atau fasilitas modern, keunikan tempat ini justru terletak pada kesederhanaannya. Alam, ikan, dan gotong royong warga menjadi daya tarik tersendiri.
Kini, setiap akhir pekan, saluran irigasi yang dulunya hanya dilewati tanpa pandang pun berubah menjadi ruang sosial dan rekreasi.
Anak-anak tertawa riang memberi makan ikan, orang tua duduk mengobrol sambil menikmati semilir angin, dan remaja seperti Fanny menjadikan tempat ini sebagai pelarian sejenak dari rutinitas harian.
Desa Kauman membuktikan bahwa wisata tidak selalu harus mahal atau megah. Kadang, yang dibutuhkan hanyalah kreativitas, kepedulian, dan semangat bersama untuk menyulap hal biasa menjadi luar biasa. (*)
