Lapas Mojokerto Ajak Warga Binaan Mecel Bareng, Perkuat Komunikasi Dua Arah

Avatar of Redaksi
WhatsApp Image 2025 07 04 at 19.37.37 0727b730
Mecel Bareng bersama Warga Binaan. (Lapas Mojokerto)

Mojokerto, Kabarterdepan.com — Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Mojokerto kembali menggelar kegiatan penuh kehangatan bertajuk “Mecel Bareng” bersama warga binaan pemasyarakatan (WBP), Jumat (4/7/2025).

Kegiatan ini menghadirkan suasana santai dan akrab, namun sarat makna sebagai upaya membangun kedekatan emosional antara petugas dan warga binaan.

Dipimpin langsung oleh Kepala Lapas Mojokerto, Rudi Kristiawan, serta didukung jajaran struktural dan staf, kegiatan ini menjadi bagian dari program Jumat Berkah.

Tidak sekadar makan bersama, “Mecel Bareng” menjadi ruang terbuka untuk dialog dua arah untuk menyerap aspirasi, mendengar keluhan, menerima masukan, dan menjadi wadah curhat bagi warga binaan.

“Tujuan kami sederhana tapi penting—kami ingin mempererat hubungan dengan teman-teman semua. Meski saat ini sedang menjalani masa pidana, bukan berarti kalian kehilangan rasa dihargai. Di sinilah tempat kita berbicara, menyampaikan yang mungkin selama ini terpendam,” ujar Rudi Kristiawan dalam sambutannya.

Menurutnya, pendekatan yang humanis dan informal menjadi strategi pembinaan yang efektif. Melalui suasana non-formal, warga binaan lebih leluasa menyampaikan apa yang dirasakan dan membutuhkan, sekaligus memperkuat kepercayaan terhadap petugas lapas.

Sebagai bagian dari pelayanan prima, para warga binaan mendapatkan tambahan sarapan khusus yang disajikan langsung oleh petugas. Selain makanan yang rutin dibagikan setiap pagi, Jumat Berkah ini menjadi bentuk perhatian dan penghargaan terhadap WBP, agar mereka merasa dihargai dan tidak diperlakukan sekadar sebagai narapidana.

Dalam arahannya kepada petugas, Kalapas Rudi juga menekankan pentingnya kerja sama dan gotong royong dalam menjalankan fungsi pembinaan. Menurutnya, keberhasilan menciptakan lingkungan pemasyarakatan yang kondusif adalah tanggung jawab kolektif.

“Pembinaan bukan tugas satu dua orang. Kita semua harus terlibat, melayani dengan tulus, dan memastikan tidak ada yang merasa terpinggirkan. Pelayanan yang baik adalah wujud penghormatan terhadap proses pemasyarakatan,” tegasnya.

Selain itu, Rudi juga memberikan penguatan kepada WBP terkait pentingnya kesadaran mematuhi aturan dan tata tertib dalam lapas. Ia menegaskan bahwa kedisiplinan yang lahir dari kesadaran pribadi jauh lebih bernilai dibanding yang lahir karena rasa takut akan hukuman.

Dalam kesempatan tersebut, Kalapas juga mensosialisasikan rencana penerapan seragam resmi bagi seluruh warga binaan. Langkah ini ditujukan untuk menumbuhkan rasa kedisiplinan dan menciptakan identitas kolektif yang teratur dan rapi sebagai bagian dari pembinaan mental dan karakter.

Respon positif pun datang dari para WBP. Mereka mengaku senang bisa berinteraksi langsung dengan Kalapas dan jajarannya dalam suasana terbuka dan hangat. Aspirasi yang disampaikan mendapatkan perhatian langsung, yang menumbuhkan rasa dihargai dan meningkatkan kepercayaan.

Kegiatan ini juga terbukti berdampak pada terciptanya situasi lapas yang aman, tertib, dan kondusif. Tidak ditemukan keluhan terkait layanan, dan suasana kebersamaan yang terbina menambah kenyamanan dalam menjalani masa pidana.

Kalapas berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara rutin untuk terus menjaga semangat kebersamaan, keterbukaan, dan kedisiplinan menuju pemasyarakatan yang lebih humanis dan progresif. (*)

Responsive Images

You cannot copy content of this page