Manfaatkan Sampah Plastik Jadi Beton, Mahasiswa UII Yogyakarta Raih Medali Emas Lomba Inovasi di Malaysia

Avatar of Redaksi
IMG 20250701 WA0008
Mahasiswa Universitas Islam Indonesia Winda Tsani Maisarohmah saat menunjukan produk beton poros dari sampah plastik, Senin (30/6/2025). (Hadid Husaini for kabarterdepan.com)

Sleman, kabarterdepan.com – Berawal dari keresahan tingginya timbunan sampah plastik di Indonesia, Mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) mengolah sampah jenis Low Density Polyethylene (LDPE) menjadi beton.

Inovasi Produk poros atau Porous Concrete Agregat LDPE Plastic tersebut bahkan menyabet medali emas dalam sebuah perlombaan Internasional Invention, Innovation, and Design Competition di Malaysia yang baru-baru ini digelar.

Bersaing dengan beberapa negara lainya seperti tuan rumah Malaysia, China, hingga India tidak membuat mereka gentar hingga mendapatkan pujian dari juri perlombaan tersebut. Juri menilai bahwa produk yang dibuat mahasiswa UII tersebut dapat mengurangi sampah plastik LDPE dengan produksi yang dilakukan.

Winda Tsani Maisarohmah, perwakilan inovasi produk tersebut menyampaikan bahwa dirinya dan menggunakan sampah jenis LDPE untuk membuat produk. Mahasiswi jurusan Analisis Keuangan tersebut menyampaikan gagasan tersebut berasal dari dirinya.

Kendati begitu dirinya menyebut dirinya butuh kolaborasi dengan 6 mahasiswa lainya seperti Teknik Sipil dan Bisnis agar produk tersebut menjadi lebih fungsional. Mereka adalah Muhammad BIntang Fauzan, Annisa Fidanta Shafira, Naila Zafira Defriadi, Dimas Surya Ardiansyah, dan M Andhyka Febriansyah.

Sampah Plastik Bikin Resah

Jenis tersebut dipilih karena selama ini pengolahan sampah oleh yang dilakukan di masyarakat kebanyakan untuk jenis Polyethylene Terephthalate (PET), sehingga ia memanfaatkan peluang tersebut untuk menjadi produk yang bermanfaat.

Plastik tersebut diambil dari perusahaan plastik bening setempat. Winda menyebut untuk 1 blok dengan dimensi 15 cm x 15 cm beton porous disebutnya membutuhkan sampah plastik dengan berat 2 kilogram. Plastik tersebut kemudian dicampur dengan oli bekas dan dilelehkan agar mudah dicetak.

“Kita lelehkan dengan oli bekas 1 sampai 2 karung plastik besar dicampur dengan oli bekas 500 mili kemudian kita cetak. Kita cetaknya cetaknya masih manual menggunakan sendok,” ujarnya saat diwawancarai wartawan pada peringatan Puncak Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada pada Senin (30/6/2025).

Kelebihan dari beton berporos dengan warna hitam tersebut dapat melakukan penyerapan terhadap air. Selain itu dapat dimanfaatkan sebagai sarana alas untuk jalan kaki ringan.

Masih Punya PR

Mahasiswi asal Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, DIY tersebut mengungkapkan pihaknya sempat melakukan uji daya tekan beton porous tersebut untuk mengetahui ketahananya. “Kita sudah menguji daya tekan pada produk tapi mendapatkan titik seberapa pasti (ketahanan terhadap beban) sesuai standar, Tapi yang secara pasti bisa menahan berat 20 kilogram,” ujarnya.

Produk tersebut menurutnya masih memiliki sejumlah PR untuk bisa disempurnakan sebelum dilakukan produksi secara massal. “Pembakaranya itu masih menghasilkan polusi, mungkin itu masih menjadi PR bagi kami,” katanya.

Ia menyebut saat ini pihaknya telah dihubungi oleh perangkat wilayah setempat untuk memperluas pemanfaatan produk tersebut. “Dari Pak Dukuh (kepala dusun) meminta kami untuk bekerja sama dengan perusahaan plastik,” pungkasnya. (Hadid Husaini)

Responsive Images

You cannot copy content of this page