Abu Janda: Pelaku Teror Anak di Sukabumi Harus Ditangkap

Avatar of Redaksi
WhatsApp Image 2025 06 30 at 16.51.17 91207a3d
Potret Abu Janda soal aksi intoleran di Cidahu Sukabumi.

Sukabumi, Kabarterdepan.com — Aksi intoleransi kembali terjadi di Indonesia. Ratusan warga Desa Tangkil, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mendatangi sebuah rumah singgah milik Maria Veronica Ninna pada Jumat (27/6/2025) lalu. Rumah tersebut tengah digunakan untuk kegiatan retret oleh puluhan pelajar Kristen dari Jakarta.

Warga yang mengaku resah menuduh rumah singgah itu sering dijadikan tempat ibadah umat Kristiani tanpa izin. Dugaan itu memicu aksi massa yang berujung pada pengusiran peserta retret dari lokasi disertai perusakan fasilitas hingga aksi vandalisme.

Peristiwa ini memantik kecaman keras dari pegiat media sosial sekaligus aktivis kebebasan beragama, Permadi Arya atau lebih dikenal sebagai Abu Janda.

Dalam unggahan media sosialnya, ia menyebut bahwa insiden ini bukan sekadar soal perizinan, melainkan bentuk nyata dari intoleransi yang sudah mengakar.

“Dan terjadi lagi, intoleransi di bagian barat Indonesia ini emang udah gak ada obat. Siswa-siswi Kristen dari Jakarta sedang melakukan kegiatan retret. Mereka pergi ke sebuah vila di daerah Cidahu, Sukabumi, dan mungkin warga setempat gerah denger mereka nyanyi. Lalu beramai-ramai mendatangi geruduk kegiatan retret tersebut, mengusir siswa-siswi dari vila, bahkan sampai melakukan perusahaan properti dan vandalisme,” ucapnya dikutip dari akun Instagram @permadiaktivis2, Minggu (29/6/2025).

Abu Janda menambahkan bahwa dalih perizinan hanya digunakan untuk membenarkan tindakan diskriminatif yang dilatarbelakangi kebencian terhadap umat Kristen.

“Ini bukan soal izin. Jangan terkecoh dengan alasan izin. Ini murni Kristenphobia, kebencian dan ketakutan terhadap agama Kristen yang dibiarkan oleh negara dari zaman Pak Jokowi sampai presidennya Pak Prabowo,” tegasnya.

Menurutnya, tidak ada kehadiran negara dalam menjamin kebebasan beragama bagi umat minoritas di wilayah barat Indonesia.

“Tidak ada atensi dari negara, apalagi upaya mitigasi, aparat tidak pernah hadir untuk memastikan kebebasan beribadah bagi umat minoritas, ini realita di Indonesia bagian barat, Indonesia yang Kristenphobia,” sambungnya.

Abu Janda bahkan menyentil sikap pemerintah daerah yang dinilai tutup mata atau bahkan memihak pada kelompok intoleran.

“Karena pemerintah wilayah barat selalu tutup mata, bahkan seringkali memihak pada warga intoleran, mungkin kita anggap saja wilayah Indonesia bagian barat ini adalah memang tempat untuk kalian umat Kristen ikut memanggul salib,”imbuhnya.

Dari informasi yang dihimpun, sebanyak 36 orang penghuni rumah singgah serta tiga unit mobil berhasil dievakuasi oleh petugas keamanan. Meski demikian, sejumlah fasilitas vila hingga kendaraan mengalami kerusakan (*)

Responsive Images

You cannot copy content of this page