
Jakarta, Kabarterdepan.com — Pegiat media sosial Permadi Arya atau yang lebih dikenal dengan nama Abu Janda kembali membuat pernyataan kontroversial.
Dalam program televisi Rakyat Bersuara episode “Iran Diserbu AS-Israel, Dunia di Ambang Perang?”, Selasa (24/6/2025) lalu, Abu Janda menilai bahwa serangan Amerika Serikat terhadap Iran tidak lepas dari motif ekonomi dan kepentingan industri militer.
Abu Janda menjelaskan bahwa setelah Kekaisaran Ottoman kalah dalam Perang Dunia I, wilayah Timur Tengah dikuasai oleh Inggris dan Prancis.
Kedua negara kolonial tersebut kemudian membentuk negara-negara baru di kawasan itu, yang menurut Abu Janda sebagian besar kini dipimpin oleh rezim pro-Barat.
“Kenapa negara-negara Arab tidak pernah membantu Palestina? Karena hampir semua rezim di sana pro-Amerika. Tidak akan dibiarkan ada satu pun negara di Timur Tengah yang anti-Barat. Kalau ada, akan digulingkan lewat perang saudara yang didanai dan dipersenjatai oleh Amerika,” lanjutnya.
Abu Janda juga mengungkapkan besarnya dukungan finansial AS terhadap Israel, dengan menyebut bahwa Negeri Paman Sam mengucurkan hibah tahunan sebesar 3,8 miliar dolar atau sekitar 60 triliun rupiah kepada Israel untuk membeli alat utama sistem persenjataan.
“Untuk apa? Untuk salah satunya untuk membeli alutsista yang canggih yang dipakai oleh Israel sekarang,” ungkapnya.
Abu Janda mencontohkan jet tempur F-35 yang super canggih itu diproduksi oleh pabrik swasta di Amerika sehingga para pejabat pun mendapatkan keuntungan dari penjualan tersebut.
Ia menyimpulkan bahwa konflik di Timur Tengah tidak lepas dari permainan ekonomi dan industri senjata atau yang disebut industrial military complex.
“Itulah ketika APBN dialokasikan untuk pertahanan, lalu dipakai untuk beli senjata dari pabrik swasta, lalu pejabat yang bersangkutan dapat komisi. It’s all business. Perang adalah bisnis,” tegasnya. (Riris*)
