Bukan Hanya Lansia, Kanker Kini Intai Milenial dan Gen X Lebih Awal

Avatar of Lintang
steptodown.com738889
Ilustrasi penyakit kanker. (Shutterstock)

Kesehatan, Kabarterdepan.com – Sebuah studi terbaru yang dimuat dalam jurnal Lancet Public Health mengungkap temuan mencemaskan: generasi muda, khususnya Gen X dan Milenial, berpotensi lebih tinggi mengidap 17 jenis kanker. Penelitian ini menyoroti peningkatan risiko yang signifikan pada mereka yang lahir setelah tahun 1965 hingga 1990.

Studi yang dipimpin oleh Hyuna Sung, seorang epidemiolog kanker dari American Cancer Society, menemukan bahwa individu yang lahir pada periode tersebut memiliki kecenderungan lebih besar untuk didiagnosis kanker. Temuan ini mengindikasikan pergeseran pola risiko kanker ke kelompok usia yang lebih muda.

Beberapa jenis kanker yang disorot dalam penelitian ini meliputi kanker pankreas, kanker ginjal, dan kanker usus halus. Disebutkan bahwa risiko untuk jenis-jenis kanker ini bahkan dua hingga tiga kali lebih tinggi pada mereka yang lahir pada tahun 1990 dibandingkan dengan individu yang lahir pada tahun 1955.

“Yang terjadi pada generasi ini bisa menjadi indikator awal untuk tren kanker di masa depan,” ujar Sung, dikutip Kabar Tedepan, Jumat (20/6/2025).

Salah satu kanker yang paling mengkhawatirkan adalah kanker kolorektal, yang kasusnya terus meningkat di kalangan orang muda selama beberapa dekade terakhir.

Temuan tersebut menjadi titik awal penyelidikan terhadap pola yang sama pada jenis kanker lainnya.

Penelitian ini menganalisis data dari dua basis data besar, North American Association of Central Cancer Registries dan U.S. National Center for Health Statistics.

Dengan total hampir 24 juta diagnosis dan lebih dari 7 juta kematian akibat kanker, data ini mencakup 34 jenis kanker dan dibagi ke dalam kelompok berdasarkan tahun kelahiran dengan interval lima tahun, mulai dari kelahiran 1920 hingga 1990.

Dari 34 jenis kanker yang dianalisis, sebanyak 17 jenis kanker menunjukkan peningkatan kasus pada kelompok usia muda. Kanker hati pada perempuan juga menunjukkan pola peningkatan serupa.

Meski sebagian besar jenis kanker menunjukkan penurunan angka kematian, ada beberapa pengecualian yang cukup mengkhawatirkan. Kematian akibat kanker endometrium, saluran empedu intrahepatik, kandung empedu, kolorektal, testis, serta kanker hati pada perempuan mengalami peningkatan.

“Kanker endometrium menjadi yang paling cepat pertumbuhannya, baik dari segi diagnosis maupun angka kematian. Ini temuan yang cukup menyedihkan,” terangnya.

Akan tetapi, ia menambahkan bahwa banyak dari peningkatan kasus ini tidak diikuti dengan peningkatan kematian berkat kemajuan dalam pengobatan. Namun demikian, penting untuk diingat bahwa kanker tetap tergolong langka di usia muda.

“Peningkatan ini nyata. Hampir semua onkologis yang saya kenal bisa melihat tren ini di lapangan,” ujar Profesor onkologi dan epidemiologi dari Johns Hopkins University, Otis Brawley.

Ia juga mengingatkan bahwa sebagian besar kasus kanker masih terjadi pada usia di atas 50 tahun.

Para peneliti belum bisa memastikan apa yang mendorong tren ini. Tetapi, sebagian besar menyepakati bahwa gaya hidup dan faktor lingkungan memainkan peran besar dengan obesitas sebagai tersangka utama.

Obesitas memang telah lama diakui sebagai faktor risiko kanker. Menurut American Cancer Society, sekitar 20 persen dari semua kasus kanker di Amerika Serikat berkaitan dengan kelebihan berat badan.

Prevalensi obesitas melonjak tajam sejak tahun 1980. Jika pada 1980 hanya sekitar 13 persen orang dewasa yang mengalami obesitas, angka ini naik menjadi 34 persen pada 2008.

Angka tersebut terus meningkat hingga hari ini, dengan lebih dari 40 persen orang dewasa dan sekitar 20 persen anak-anak serta remaja di Amerika Serikat mengalami obesitas.

Onkologis dari Memorial Sloan Kettering Cancer Center, Andrea Cercek yang tidak terlibat dalam studi ini, menekankan bahwa ada perbedaan gaya hidup dari masing-masing generasi.

“Mereka terpapar faktor lingkungan atau gaya hidup yang berbeda, yang menyebabkan pergeseran ini,” tuturnya.

Tak hanya obesitas, para ahli juga mencurigai gaya hidup yang semakin sedentari (kurang gerak), pola makan, paparan bahan kimia dalam air dan makanan, penggunaan obat-obatan tertentu, serta paparan antibiotik secara berlebihan sebagai faktor penyebab.

Antibiotik, misalnya, diketahui dapat mengganggu keseimbangan mikrobioma usus, yang berkaitan dengan risiko kanker kolorektal. Walaupun antibiotik penting untuk mengobati infeksi bakteri, penggunaannya sering kali tidak tepat sasaran. (*)

Responsive Images

You cannot copy content of this page