
Blora, Kabarterdepan.com – Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Blora, Sunaryo, menyebut dua sekolah dasar (SD) negeri di wilayahnya, tidak mendapatkan peserta didik baru pada tahun ajaran ini. Keduanya saat ini masih dalam kajian untuk dilakukan re-grouping atau penggabungan.
Dua sekolah tersebut, yakni SD Negeri 1 Patalan di Kecamatan Blora dan SD Negeri 1 Sumengko di Kecamatan Randublatung. Selain itu, masih ada puluhan SD negeri lain yang terancam mengalami re-grouping karena jumlah siswa baru yang minim.
“Nanti kita lihat, apakah dua sekolah itu memenuhi persyaratan untuk re-grouping atau tidak. Ada empat faktor yang harus dipenuhi, termasuk letak sekolah,” ujar Sunaryo usai mengikuti rapat internal terkait wacana re-grouping, Senin (16/6/2025).
Terkait jumlah sekolah yang akan digabung, Sunaryo belum bisa menyebutkan karena masih menunggu data usulan dari lapangan. Ia mengatakan, pembahasan masih memerlukan rapat lanjutan.
“Iya (nanti akan ada rapat lanjutan),” singkatnya.
Sunaryo menjelaskan, wacana re-grouping mengacu pada Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 52 Tahun 2018 tentang Tata Cara Penggabungan Sekolah Dasar Negeri di Kabupaten Blora. Menurutnya, regulasi tersebut masih relevan sehingga tidak perlu direvisi untuk pelaksanaan re-grouping.
“Intinya, re-grouping itu harus bermuara pada penguatan sekolah. Jangan sampai setelah digabung justru sekolahnya tidak berkembang,” jelasnya.
Saat ini, kata dia, rencana re-grouping masih dalam tahap awal. Dinas Pendidikan berencana membentuk tim pelaksana, serta menghimpun data potensi di masing-masing wilayah yang berpeluang digabung.
“Rencana re-grouping tahun ini. Mudah-mudahan dalam enam bulan ke depan bisa selesai,” tuturnya.
Sunaryo menambahkan, penggabungan sekolah dasar bukan hal baru di Kabupaten Blora. Kebijakan serupa pernah dilakukan pada 2012 dan 2018.
“Sudah pernah tahun 2012, lalu 2018 juga,” ujarnya.
Meski begitu, Sunaryo mengakui pelaksanaan re-grouping tidak mudah untuk dilakukan, karena adanya perbedaan pendapat dari berbagai pihak.
“Baik dari pihak sekolah, desa, kecamatan, hingga orang tua siswa, ada yang tidak setuju. Jadi diperlukan pendekatan yang cukup panjang,” pungkasnya.
Sebelumnya juga diberitakan SDN 1 Sidorejo juga minim peminat, bahkan saat ini SD negeri tersebut hanya memiliki 19 siswa di 6 kelas yang ada.(Fitri)
