
Sleman, kabarterdepan.com – Belum adanya kepastian harga jual hasil pengolahan sampah, membuat sebagian kelompok bank sampah di Sleman belum bisa dijalankan secara konsisten oleh sebagian anggotanya.
Hal tersebut membuat keberlanjutan bank sampah menjadi tidak menentu, bahkan banyak yang tidak aktif karena harga yang terkadang turun drastis.
Ketua Jaringan Pengelola Sampah Mandiri (JPSM) Sehati, Hijrah Purnama Putra menyampaikan selama ini harga jual dari sampah yang dikelola kelompok masyarakat seperti bank sampah mengikuti harga yang ditawarkan pengepul.
“Kadangkala (anggota kelompok) tidak semangat mengumpulkan, karena tidak lunas dibayar. Itu jadi salah satu penurun semangat masyarakat,” katanya saat diwawancarai wartawan di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman, Kamis (12/6/2025).
Disamping itu, kelompok bank sampah disebutnya tidak memiliki modal besar untuk operasional. Terlebih minimnya lokasi, membuat kelompok kesulitan untuk melakukan pengolahan.
Hal lain yang ia temukan dari beberapa orang harus mengeluarkan biaya pribadi untuk kebutuhan sarana dan prasarana.
“Masyarakat diedukasi, mereka terima sampah dari masyarakat (nasabah) kemudian sampah sudah terpilah. Setelah dikelola kemudian dijual ke pengepul,” jelasnya.
“Sisanya bagi hasil untuk operasional 10-20 persen, 80 persen untuk nasabah,” imbuhnya.
Oleh karena itu pihaknya meminta DLH Sleman untuk memetakan seluruh kelompok bank sampah baik yang aktif maupun tidak.
Secara keseluruhan, Bank Sampah yang terdaftar di JPSM ada 200 kelompok. Dari jumlah tersebut, ia memperkirakan kelompok yang hingga saat ini berjumlah 50 persen.
Partisipasi perwakilan setiap kelompok dalam mengikuti pertemuan rutin menurutnya perlu ditingkatkan. Pasalnya yang terfasilitasi dalam pertemuan rutin hanya 60 orang.
Hal itu menjadikan sosialisasi dari pemerintah dalam pemecahan solusi menjadi kurang maksimal.
“Harapnya jatah kuota pertemuan tidak hanya 60 orang bisa naik jadi 100, sehingga kontribusinya lebih besar,” jelasnya.
Dalam pertemuan, Sekretaris Daerah (Sekda) Sleman Susmiarto menyampaikan pihaknya berupaya mendengan apa yang menjadi masalah di masyarakat.
Dari masalah yang terserap tersebut, Ia meminta DLH Sleman untuk bisa mencarikan solusi baik jangka pendek jangka menengah, maupun jangka panjang.
Susmiarto menyampaikan bahwa solusi yang bisa dilakukan saat ini adalah membentuk kemitraan.
Terkait banyaknya bank sampah yang mati, ia menyampaikan hal tersebut membutuhkan komitmen dari para anggota.
“Sekarang bagaiman kita mikirnya jangan saya dapat apa, tapi saya bisa berbuat apa,” jelas Susmiarto. (Hadid Husaini)
