Proyek Geothermal Bonjol Masuki Tahap Parklane, Bupati Pasaman Sebut Investasi Jalan dan Rakyat Jangan Dirugikan

Avatar of Redaksi
IMG 20250611 WA0140
Bupati Pasaman, Welly Suhery (FajarPR/Kabarterdepan.com)

Pasaman, kabarterdepan.com – Proyek pengembangan energi panas bumi (geothermal) Bonjol oleh PT Medco Geothermal Sumatera (MGSu) memasuki babak baru.l, yakni memasuki fase pengeboran awal atau parklane.

Bupati Pasaman Welly Suhery menegaskan pentingnya penyelesaian persoalan secara bijak dan terukur tanpa menggeneralisasi masalah yang muncul di lapangan.

“Jangan digeneralisasi. Harus diklasifikasikan satu per satu dan diselesaikan sesuai konteks. Prinsip kita jelas: perusahaan tetap beroperasi, tapi masyarakat tidak boleh dirugikan,” kata Welly Suhery saat memberikan arahan dalam acara sosialisasi proyek geothermal di Aula Kantor Camat Bonjol, Rabu (11/6/2025).

Menurut Welly, daerah saat ini dihadapkan pada tantangan pembiayaan pembangunan seiring penurunan Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) dari pusat. Karena itu, pemerintah daerah mesti terbuka terhadap masuknya investasi, termasuk sektor energi baru terbarukan.

“Pasaman butuh investasi untuk menjaga kesinambungan pembangunan. Tapi stabilitas sosial juga harus dijaga. Jangan sampai ada pihak yang merasa dikesampingkan. Kita harus cari solusi bersama. Investor untung, masyarakat pun sejahtera,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Bupati juga menyampaikan apresiasi kepada PT Medco Geothermal Sumatera yang telah berinvestasi di Pasaman. Ia bahkan telah meminta langsung kepada jajaran direksi perusahaan agar memprioritaskan tenaga kerja lokal dalam pelaksanaan proyek di lapangan.

“Saya minta agar pelibatan tenaga kerja lokal, terutama dari Bonjol, menjadi prioritas utama. Ini penting agar manfaat proyek ini juga dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar,” kata Welly.

Site Manager PT MGSu, Sigit Widiatmoko, memaparkan bahwa proyek geothermal Bonjol semula direncanakan mulai beroperasi pada 2019. Namun pandemi Covid-19 membuat rencana tersebut tertunda hingga bisa dimulai kembali pada November 2023.

“Di 2023 kita mulai dengan pengambilan data lapangan. Lalu Maret 2024 lanjut ke tahap sosialisasi pembebasan lahan. Desember 2024 konstruksi akses jalan ke lokasi pengeboran kita mulai,” jelas Sigit.

Kini, pada Juni 2025, proyek memasuki fase parklane, tahap awal pengeboran untuk mengukur tekanan uap dan potensi suhu panas bumi di bawah permukaan Bonjol. Berdasarkan proyeksi teknis, potensi panas bumi berada di kisaran 150 derajat Celsius, tergolong medium-low enthalpy, dengan potensi produksi listrik hingga 35 kV (kilovolt).

“Energi panas ini akan menggerakkan turbin untuk menghasilkan listrik. Tapi prosesnya masih panjang, estimasi kami butuh sekitar tujuh tahun hingga bisa beroperasi penuh, atau sekitar tahun 2032,” jelasnya.

Pengeboran tahap pertama akan dilakukan di dua titik: Bonjol 1 (Kampung Tampang) dan Bonjol 3 (Sungai Limau), dengan kedalaman mencapai 1 kilometer. Infrastruktur penunjang seperti tapak sumur dan kolam pengolahan limbah lumpur juga telah dibangun sejak Maret lalu.

Acara sosialisasi itu juga dirangkai dengan forum dialog terbuka antara masyarakat dan pihak PT MGSu, difasilitasi oleh Pemerintah Kabupaten Pasaman. Forum tersebut menjadi wadah penyaluran aspirasi warga sekaligus media klarifikasi langsung terkait progres proyek dan potensi dampak di lapangan.

Diskusi yang berlangsung cukup hangat itu dihadiri oleh berbagai unsur, termasuk kepala OPD teknis Pemkab Pasaman, Forkopimca Bonjol, wali nagari, Ketua KAN, Ketua Bamus, tokoh masyarakat, ninik mamak, dan perwakilan pemuda Nagari Ganggo Mudiak. (FajarPR)

Responsive Images

You cannot copy content of this page