Ini Alasan Dedi Mulyadi Hapus PR dan Terapkan Sekolah Masuk Jam 06.30

Avatar of Redaksi
WhatsApp Image 2025 05 02 at 11.52.22 21af60c7
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. (@DediMulyadi71)

Jawa Barat, Kabarterdepan.com — Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan menerapkan kebijakan baru pada tahun ajaran 2025/2026.

Selain mengatur jam masuk sekolah lebih pagi menjadi pukul 06.30 WIB, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi juga mengumumkan pelarangan pemberian pekerjaan rumah (PR) bagi siswa.

Alasan diberlakukannya kebijakan ini dijelaskan oleh Dedi Mulyadi melalui akun Instagram resminya @dedimulyadi71.

Ia menegaskan bahwa seluruh kegiatan belajar dan tugas-tugas sekolah harus diselesaikan di lingkungan sekolah, bukan dibawa ke rumah.

“Saya sampaikan ya bahwa di tahun ajaran baru 2025/2026 yang akan datang, sekolah di Jawa Barat dimulai pukul 06.30,” ujar Dedi Mulyadi, Rabu (4/6/2025).

Ia menambahkan, langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya membatasi aktivitas anak-anak di luar rumah pada malam hari.

“Karena anak-anak tidak boleh keluar rumah lebih dari jam 9 tanpa pendampingan, tanpa keperluan yang mendesak, yang didasarkan pada izin orang tuanya, maka Pemerintah Provinsi Jawa Barat berencana untuk menghapus pekerjaan rumah bagi anak-anak sekolah,” jelasnya.

Menurut Dedi, waktu di rumah seharusnya digunakan anak-anak untuk beristirahat, membantu orang tua, dan mengikuti kegiatan produktif lainnya.

“Di rumah anak-anak itu relax, baca buku, berolahraga, fokus membantu kedua orang tuanya, meringankan beban-beban pekerjaannya, kemudian belajar membereskan rumah, cuci piring, perempuan belajar masak, ngepel, dan berbagai kegiatan lainnya yang bermanfaat,” tambahnya.

Ia juga mendorong anak-anak untuk mengikuti kegiatan tambahan seperti les musik, bahasa Inggris, matematika, atau fisika guna memperkaya wawasan dan keterampilan.

Kebijakan ini, diakui Dedi, mungkin akan menimbulkan pro dan kontra. Namun menurutnya, hal tersebut adalah bagian dari dinamika demokrasi.

“Untuk itu, pasti kebijakan saya ada pro dan kontra. Bagi saya, pro dan kontra adalah hal yang biasa dalam berdemokrasi,” pungkasnya. (Riris*)

Responsive Images

You cannot copy content of this page