Dokter Tak Beri Penjelasan, Keluarga Pasien Meninggal Usai Operasi Usus Buntu Somasi RSUD Tarakan

Avatar of Redaksi
WhatsApp Image 2025 06 04 at 14.17.08 57afa0a9
Potret RSUD Tarakan Jakarta. (Youtube RSUD Tarakan Jakarta)

Jakarta, Kabarterdepan.com — Keluarga pasien almarhum Johanes Patria Sitanggang (43), yang meninggal dunia usai menjalani operasi usus buntu di RSUD Tarakan, Jakarta, pada 4 Mei 2025, melayangkan somasi kepada pihak rumah sakit. Mereka menuntut penjelasan resmi terkait dugaan kesalahan prosedur medis setelah operasi dilakukan.

Somasi dilayangkan keluarga pada Senin (2/6/2025) kepada Direktur RSUD Tarakan dan dokter bedah yang menangani, dr. Diah Asih Lestari, Sp.B. Kecurigaan keluarga mencuat setelah menemukan satu sayatan di atas pusar dan tiga di bawah pusar. Menurut keterangan keluarga, operasi usus buntu seharusnya dilakukan di bagian perut kanan bawah.

Keluarga juga menyoroti buruknya komunikasi dari pihak rumah sakit selama perawatan. Menurut kronologi yang dikutip dari surat somasi, pasien masuk IGD pada 29 April 2025 dengan diagnosa usus buntu, namun operasi yang semula dijadwalkan pukul 16.00 WIB pada 30 April ditunda hingga malam hari tanpa penjelasan.

Kakak almarhum, Anna Tuning Sitanggang, menyampaikan bahwa sejak awal proses hingga adiknya meninggal dunia, keluarga tidak pernah menerima penjelasan menyeluruh dari dokter yang menangani.

“Seharusnya dokter bicara ke keluarga, ini usus buntu ada nanah harus operasi besar, jika operasi itu dilakukan akibatnya bagaimana, tidak ada info sama sekali dari dokter,” ujar Anna saat dihubungi, Rabu (4/6/2025).

Ia juga menjelaskan bahwa keluarga sempat menanyakan usus yang seharusnya dipotong dalam prosedur operasi tersebut. Namun jawaban dari pihak rumah sakit justru semakin membingungkan.

“Jika operasi usus buntu kan ada usus yang dipotong dan ditunjukkan ke kami. Kami tanya mana usus yang dipotong, mereka bilang tidak ada. Saat kami tanya, loh kok nggak ada? Mereka cuma bilang tidak ada karena (ususnya) pecah,” jelas Anna.

Selain itu, Anna menyesalkan tidak adanya kunjungan atau penjelasan dari dr. Diah Asih Lestari selaku dokter bedah yang melakukan operasi, bahkan hingga adiknya meninggal dunia.

“Dokter Diah yang melakukan operasi tidak pernah mengunjungi pasien. Sampai adik kami meninggal pun, tidak ada muncul. Pihak RS Tarakan juga tidak ada itikad minta maaf atau beri kami info,” tambahnya.

RSUD Tarakan Jawab Somasi, Akui Kekurangan Komunikasi

Menanggapi somasi tersebut, RSUD Tarakan mengeluarkan surat balasan atas nama Direktur RS, dr. Weningtyas Purnomorini, MARS, pada hari yang sama. Dalam surat tersebut, rumah sakit menyatakan penyesalan atas peristiwa yang terjadi, terutama pada aspek komunikasi.

“Saya secara pribadi merasa sangat prihatin dan menyesal serta menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas proses perawatan medis yang belum optimal, khususnya dalam komunikasi terapeutik dan hospitality dari dokter penanggung jawab pasien. Hal ini menjadi bahan evaluasi dan pembelajaran yang sangat berharga bagi kami untuk meningkatkan mutu pelayanan di masa yang akan datang,” tulis Weningtyas.

Pihak RSUD Tarakan juga mengundang keluarga pasien untuk melakukan mediasi bersama dr. Diah Asih Lestari dan jajaran manajemen rumah sakit pada Kamis (5/6/2025) besok.

Anna mengonfirmasi undangan tersebut, namun menyayangkan respons pihak rumah sakit baru muncul setelah somasi dan pemberitaan muncul ke publik.

“Mereka minta maaf setelah berita naik dan somasi kami layangkan. Besok kami mediasi dengan RS Tarakan untuk mempertanyakan lagi,” pungkasnya. (*)

Responsive Images

You cannot copy content of this page