Kemitraan Strategis Perhutani Dorong Ekonomi Hutan Melalui Agroforestry Tebu Mandiri

Avatar of Redaksi
IMG 20250531 WA0025
PANEN TEBU : program Agroforestry Tebu Mandiri (ATM) di Perum Perhutani Purwodadi (masrikin/kabarterdepan.com)

Grobogan, kabarterdepan.com – Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Purwodadi kembali menunjukkan peran strategisnya dalam mendorong pemanfaatan kawasan hutan yang produktif dan berkelanjutan.

Melalui program Agroforestry Tebu Mandiri (ATM), Perhutani berhasil melaksanakan panen kedua di Petak 62F, Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Pekuwon, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Bandung, dengan hasil tebu mencapai 1.026 ton.

Panen yang dilakukan di lahan seluas 9,3 hektare ini tidak hanya menjadi bukti keberhasilan budidaya, tetapi juga mencerminkan model kemitraan yang efektif antara Perhutani, mitra petani, dan industri hilir seperti Pabrik Gula (PG) Rejo Agung Madiun.

Skema ini membuka ruang pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar hutan melalui integrasi tanaman kehutanan dan pertanian.

“Kami tidak hanya menanam dan memanen, tetapi membangun sistem produksi berbasis kolaborasi yang mendukung keberlanjutan ekonomi kawasan hutan,” ujar Kastur, Kepala Seksi Produksi dan Ekowisata KPH Purwodadi. Sabtu (31/5/2025).

Skema ATM di wilayah BKPH Bandung mencakup total luasan 17,1 hektare yang tersebar di Petak 62F, 47D, dan 49B. Keberhasilan panen kedua ini yang meningkat dari 935 ton pada panen pertama Agustus 2024 mengindikasikan peningkatan signifikan dari sisi teknis budidaya, efisiensi manajemen lapangan, serta penguatan jaringan distribusi.

Perwakilan PG Rejo Agung Madiun yang hadir dalam kegiatan panen turut menyatakan apresiasi terhadap kemitraan yang telah terjalin.

“Rendemen tebu dari kawasan hutan ini mencapai angka 16, sebuah pencapaian yang sangat kompetitif dan mendukung stabilitas produksi pabrik kami,” ujarnya.

Produktivitas sebesar 60 ton per hektare menjadi indikator bahwa integrasi hutan-produktif dengan komoditas pertanian seperti tebu dapat menjadi alternatif model bisnis agroforestri yang menjanjikan.

Selain mendukung ketahanan industri gula nasional, lanjut dia program ini juga memperkuat peran sosial Perhutani dalam menciptakan nilai tambah di wilayah hutan negara.

“Agroforestry bukan hanya tentang hasil panen, tapi bagaimana kawasan hutan bisa menjadi sumber kehidupan yang produktif bagi semua pihak yang terlibat,” tambah Kastur.

Melalui pendekatan ini, Perhutani KPH Purwodadi menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan tata kelola hutan yang adaptif, inklusif, dan mendukung keberlanjutan ekonomi dan lingkungan.(Masrikin)

Responsive Images

You cannot copy content of this page