Dedi Mulyadi Murka ke Suporter Persikas di Subang: Ngaku Anak Muda tapi Enggak Punya Otak!

Avatar of Redaksi
WhatsApp Image 2025 05 30 at 09.59.09 c7b6b88f
Potret Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi, saat menegur suporter Persikas. (Tiktok @andrienov_19)

Subang, Kabarterdepan.com – Suasana acara Nganjang Ka Warga di Desa Sukamandijaya, Kecamatan Ciasem, Kabupaten Subang, mendadak tegang ketika Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, bereaksi keras terhadap sekelompok penonton yang membentangkan spanduk penolakan terhadap rencana penjualan klub sepak bola Persikas Subang, Rabu (28/5/2025) lalu.

Dedi terlihat marah besar karena menurutnya, aksi tersebut tidak pada tempatnya. Ia menegur langsung para pembawa spanduk saat sedang berdialog dengan warga dalam forum kemasyarakatan.

“Siapa kamu? Turunkan spanduknya, jangan sok jago di situ kamu. Enggak mikir kamu! Ini bukan forum Persikas, ini forum saya dengan rakyat. Ngaku anak muda, ngaku berpendidikan, tapi enggak punya otak. Ini penderitaan rakyat, bukan urusan Persikas!” teriak Dedi dengan suara lantang.

Ia menambahkan bahwa masalah sepak bola tidak pantas disuarakan dalam forum yang bertujuan menyerap aspirasi rakyat, terutama di tengah penderitaan yang nyata dari masyarakat.

“Urusan Persikas bukan di sini, di lapangan dan bukan urusan saya, kamu punya otak, ada orang menderita, kamu teriak Persikas, siapa kamu, sini!” lanjutnya dengan nada geram.

Dedi Mulyadi mengungkapkan di balik kemarahannya yang terekam dalam video tersebut bukan tanpa sebab, melainkan muncul karena tindakan sekelompok orang yang dinilainya tidak memiliki empati dan tidak menempatkan aspirasi pada tempat yang tepat.

“Saya malam itu marah, karena ada sekelompok orang yang tidak memiliki adab dalam hidupnya,” ungkapnya dikutip dari akun Instagramnya, Kamis (29/5/2025).

Dedi menjelaskan bahwa pada saat itu dirinya tengah mendengarkan curahan hati seorang ibu yang berjuang membesarkan empat anak dengan hanya memungut botol bekas. Namun, di tengah suasana haru tersebut, sekelompok suporter Persikas justru meneriakkan yel-yel.

“Di saat air mata jatuh karena rasa empati pada derita seorang ibu yang memiliki empat anak dan membiayai mereka hanya dengan memungut botol-botol bekas tetapi anaknya bisa tumbuh dengan baik, suaminya menikah lagi dengan orang lain, ini berteriak yel-yel untuk menyelamatkan Persikas karena klubnya berpindah tempat dibeli oleh pihak lain,” bebernya.

Menurut Dedi, tindakan para suporter bola tersebut mencerminkan sikap yang tidak beradab dan hilangnya rasa empati terhadap penderitaan seseorang.

“Tentunya sikap ini adalah sikap yang tidak beradab yang menempatkan sebuah masalah tidak pada tempatnya. Dan yang paling penting adalah bahwa hilangnya nalar rasa, hilangnya hati dan hilangnya cinta pada orang yang terlalu mengedepankan ego untuk membela klubnya tetapi mengabaikan fakta derita yang dihadapi oleh warga di hadapan matanya,” tambahnya.

Dedi juga menyadari bahwa kemarahannya bisa saja dimaknai sebagai tindakan emosional oleh sebagian pihak. Namun ia menegaskan bahwa tanggung jawab moral untuk mendidik masyarakat jauh lebih penting daripada menjaga citra pribadi.

“Semoga peristiwa itu menjadi pelajaran penting dan tentunya kemarahan saya akan di framing menjadi pemimpin yang emosional dan dibawa kemana-mana. Bagi saya itu tidak penting dipersilahkan saja, tapi mendidik rakyat bagi saya jauh lebih penting dari sekedar memikirkan popularitas dan elektabilitas,” tegasnya. (Riris*)

Responsive Images

You cannot copy content of this page