
Internasional, Kabarterdepan.com— Alumni Universitas Columbia membakar ijazah mereka bertepatan dengan wisuda mahasiswa angkatan 2025, Rabu (21/5/2025).
Aksi ini dilakukan sebagai bentuk solidaritas terhadap mahasiswa yang memprotes perang Israel di Gaza, sekaligus menyuarakan kemarahan atas sikap kampus yang dianggap tunduk pada kebijakan pemerintahan Trump.
Protes tersebut berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan di lingkungan kampus. Para alumni dan mahasiswa menyuarakan ketidakpuasan mereka terhadap keputusan pihak universitas yang dinilai membatasi kebebasan berpendapat.
Josh Dubnau, Alumni Universitas Columbia, turut serta dalam aksi karena merasa malu sebagai lulusan universitas tersebut.
“Saya alumni universitas ini, saya merasa malu,” ujarnya dilansir dari DW News.
Salah satu pemicu utama kemarahan publik adalah keputusan universitas yang melarang Mahmoud Khalil, mahasiswa pascasarjana yang saat ini ditahan, untuk menghadiri wisuda.
Khalil ditahan sejak Maret 2025 karena keterlibatannya dalam aksi demonstrasi pro palestina di kampus. Meskipun berstatus penduduk tetap sah dan tidak memiliki catatan kriminal, ia terancam dideportasi.
Rektor sementara Universitas Columbia, Claire Shipman, menjadi sasaran kritik setelah menyatakan bahwa Khalil tidak akan diizinkan menerima ijazah secara langsung.
Aksi protes juga dipicu oleh langkah Universitas Columbia menyetujui serangkaian kebijakan pemerintah federal sebagai syarat untuk tetap menerima dana hibah sekitar Rp 6,5 triliun.
Pemerintahan Trump sebelumnya mengancam akan menahan dana tersebut dari universitas yang dianggap membiarkan mahasiswanya pro palestina.
Demonstran membawa spanduk dan meneriakkan “Bebaskan Mahmoud Khalil.” Sebagian membakar ijazah sementara yang lain merobeknya sebagai simbol penolakan terhadap kebijakan universitas.
Diketahui, Mahmoud Khalil dikenal sebagai pemimpin kelompok Columbia United Apartheid Divest (CUAD), yang menyerukan pemutusan hubungan universitas dengan entitas yang terkait dengan Israel.
Ia merupakan tokoh sentral dalam gerakan protes mahasiswa. Namun, kelompok tersebut juga dituding memiliki pandangan ekstrem dan dikaitkan dengan kelompok radikal. (Riris*)
