Nonton Ketoprak, Bupati Sragen Bernostalgia ke Masa Kecil

Avatar of Redaksi
IMG 20250506 WA0152
KETOPRAK: Festival seni budaya di Desa Kedawung, Kecamatan Mondokan, dalam rangkaian HUT Kabupaten Sragen ke-279 (Masrikin/kabarterdepan.com)

Sragen, kabarterdepan.com – Disuguhi pentas seni budaya Ketoprak dalam rangkaian Festival Hari Ulang Tahun (HUT) ke-279 Kabupaten Sragen di Desa Kedawung, Kecamatan Mondokan, pada Senin malam (5/5/2025) malam, Bupati Sragen Sigit Pamungkas merasa bernostalgia ke masa kecilnya.

Pertunjukan seni budaya Jawa, Ketoprak, yang mengangkat cerita Damar Wulan dan Minyak Jinggo dari masa Kerajaan Blambangan itu membangkitkan kenangan masa kecil sang bupati.

“Budaya seni Ketoprak mengingatkan saya pada masa kecil, dulu saya sering diajak nonton bersama teman-teman,” ujar Bupati Sragen, Selasa (6/5/2025).

Ia mengungkapkan, bukan hanya alur cerita drama Ketoprak yang menarik untuk disaksikan, tetapi juga suasana kebersamaan dengan seluruh lapisan masyarakat menjadi momentum yang istimewa baginya.

“Duduk bersama di tengah ribuan masyarakat, mulai dari ibu-ibu, bapak-bapak, remaja hingga anak-anak, sangatlah menyenangkan,” katanya.

Meskipun hanya duduk beralaskan tikar dan beratapkan langit, kesederhanaan itulah yang menurut Sigit membuatnya merasa dekat dengan rakyat.

Bupati Sigit menyatakan bahwa peringatan HUT Sragen kali ini mengusung tema “The Land of Java Man” sebagai bagian dari upaya memperkuat jati diri Sragen sebagai daerah dengan sejarah peradaban yang sangat tua dan agung.

Manusia Jawa Purba atau Homo erectus yang dikenal sebagai “manusia yang berjalan tegak” adalah makhluk mirip manusia modern dengan nama ilmiah Pithecanthropus erectus. Fosil pertamanya ditemukan oleh Eugène Dubois di Trinil, Ngawi, pada tahun 1891. Fosil serupa juga banyak ditemukan di Situs Sangiran, yang berada di wilayah Kabupaten Sragen dan Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah.

Menurut Bupati Sragen, jejak peradaban di Sragen telah ada bahkan sebelum era Mataram Islam, dan mendahului kerajaan-kerajaan besar seperti Pajang, Demak, Majapahit, Singasari, Kediri, Kahuripan, hingga Mataram Kuno.

“Artinya, Sragen memiliki jejak sejarah yang melampaui kerajaan-kerajaan besar Nusantara,” tutur Bupati Sigit.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Sigit juga menyampaikan beberapa kebijakan yang telah dan akan dilaksanakan selama masa jabatannya. Kebijakan tersebut mencerminkan kepedulian terhadap kesejahteraan masyarakat kecil, pendidikan, dan lingkungan.

“Di antaranya adalah pembebasan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) untuk warga miskin, penyandang disabilitas, guru berpenghasilan rendah, dan para veteran. Kemudian, mulai tahun 2026, akan diberikan insentif bagi guru PAUD sebesar Rp300.000 hingga Rp600.000 per bulan, tergantung masa kerja,” ungkapnya.

Diketahui, Festival Seni Budaya Sragen digelar di 20 kecamatan mulai tanggal 4 Mei hingga 15 Mei 2025 merupakan rangkaian acara memperingati hari jadi Kabupaten Sragen ditengah tuntutan efisiensi anggaran.

“Rencananya, tahun depan peringatan HUT Sragen akan diselenggarakan di seluruh 208 desa dan kelurahan sebagai bagian dari perayaan hari jadi Kabupaten Sragen,” pungkasnya.(Masrikin).

Responsive Images

You cannot copy content of this page