Dari Balik Jeruji Menuju Lumbung Pangan, Nusakambangan Dorong Reintegrasi Lewat Program Pertanian

Avatar of Redaksi
WhatsApp Image 2025 04 18 at 16.46.55 f824c1e4
Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto saat panen raya bersama warga binaan di Lapas Terbuka Nusakambangan. (Lapas Nusakambangan / Kabarterdepan.com)

Nusakambangan, Kabarterdepan.com – Pulau Nusakambangan, yang selama ini dikenal sebagai lokasi lembaga pemasyarakatan dengan pengamanan tinggi, kini menampilkan wajah baru sebagai pusat pembinaan produktif dan lumbung ketahanan pangan nasional. Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto, menegaskan komitmen ini saat melakukan panen raya bersama warga binaan di Lapas Terbuka Nusakambangan, Kamis (17/4/2025).

Panen padi menjadi simbol keberhasilan awal dari program ketahanan pangan yang digagas oleh Direktorat Jenderal Pemasyarakatan. Tak hanya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi di dalam lapas, hasil pertanian Nusakambangan juga diarahkan untuk menjangkau pasar masyarakat umum.

“Yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana kami mampu  memberdayakan dan memberikan kesempatan kepada warga binaan  untuk terlibat dalam  program mulia  ini sebagai bagian dari pembinaan.  Kembali ke masyarakat menjadi warga yang berketerampilan dan diharapkan dapat berperan positif dalam pembangunan negara,” ujar Agus saat meninjau ladang padi.

Program ini mencakup berbagai sektor. Setelah memanen padi, Menteri Agus melanjutkan kunjungan ke lahan jagung seluas 6,2 hektare di area pertanian Lapas Gladakan. Jagung hibrida ini tak hanya dijual, tapi juga digunakan sebagai bahan pakan ayam petelur di dalam program peternakan lapas. Produksi telur bahkan telah menyentuh angka 1.400 butir per hari. Selain itu, lahan juga ditanami cabai, tomat, timun, dan berbagai sayuran lain.

Tak berhenti di sektor tanaman pangan dan peternakan, pemerintah juga tengah mempersiapkan budidaya udang vaname di atas lahan seluas 61,5 hektare di wilayah Bantar Panjang dan Pasir Putih. Menurut Agus, dari total 167,194 hektare lahan di Pulau Nusakambangan, sebagian besar kini tengah dioptimalkan sebagai sentra produksi pangan nasional.

Pemberdayaan warga binaan menjadi titik tekan utama dalam program ini. Sekitar 200 warga binaan yang telah memasuki tahap asimilasi kini bekerja di ladang, peternakan, hingga kegiatan budidaya lainnya.

Sebagai bentuk dukungan terhadap program ini, pemerintah juga menggandeng berbagai stakeholder seperti BRI, PLTU, yayasan, perusahaan swasta, hingga NGO. Pembangunan infrastruktur pendukung juga dilakukan, seperti jalan sepanjang 11 km, Balai Latihan Kerja (BLK), dan sarana pemanfaatan limbah FABA (Fly Ash and Bottom Ash).

Kegiatan Menteri Agus diakhiri dengan peresmian Training Center, yang menjadi pusat pelatihan bagi para pegawai pemasyarakatan, bekerja sama dengan Yayasan Penerima Internasional Indonesia (YPII).

Dengan pendekatan yang menyatukan pembinaan dan ketahanan pangan, Nusakambangan perlahan menepis citra kelamnya, menjadi simbol harapan dan transformasi bagi para narapidana menuju kehidupan yang lebih baik. (Riris*)

Responsive Images

You cannot copy content of this page