
Blora, Kabarterdepan.com- Fenomena perdagangan online yang dilakukan oleh para produsen membuat pasar di tingkat daerah atau kabupaten klimpungan.
Imbas dari fenomena itu, tak hanya pasar tradisional, perdagangan ritail hingga distributor tingkat Kabupaten mengaku ngos-ngosan.
Salah satu distributor dari produk tas dan accesories brand lokal, Anny Latifah mengaku kelimpungan meskipun sudah melakukan beberapa upaya untuk turut memasarkan produk tersebut di pasar online.
“Banyak upaya, membuat toko online, live hingga pasang iklan saya lakukan,” kata Anny saat dihubungi Wartawan Kabarterdepan.com, Selasa (15/4/2025).
Saat ini, sambung Anny, produk yang ia pasarkan lebih didominasi dari WA dan COD sekitar Kabupaten Blora. Ia menilai saat ini untuk pasar online marketplace sudah dikuasai oleh produsen dari produk yang ia jual.
Lebih lanjut, Anny mengaku pada moment lebaran kemarin omset yang ia jual merosot dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Bahkan penurunan penjualan dari produk yang juga dijual oleh produsen merosot hingga 80 persen.
“Tahun ini agak berat, karena memang masyarakat Blora sudah melek teknologi, dengan membandingkan harga di marketplace. Sementara produk yang saya jual juga sudah dipasarkan oleh produsen saya,” terangnya.
“Bagaimanapun masyarakat tetap akan lebih percaya kepada produsen langsung. Selain terjamin original, harga diskon maupun promo dari produsen gila-gilaan,” imbuh Anny.
Ia menilai, model persaingan seperti itu sangat tidak sehat untuk distributor di tingkat Kabupaten. Menurutnya para distributor disetiap Kabupaten memiliki reseller, yang turut memasarkan produk dari produsen.
Lalu, sambung Anny, pemasaran online yang dilakukan oleh produsen ke konsumen secara ecer, juga mencaplok konsumen di Kabupaten. Sehingga para distributor di daerah kelimpungan, dan berujung banyaknya reseller yang enggan memasarkan produk.
“Dulu saya punya ratusan reseller, sekarang cuma tinggal beberapa yang aktif, itupun juga dari reseller yang sudah terlanjur buka toko retail,” ujar dia.
Ia mengeluhkan tingkah produsen yang produknya turut ia pasarkan di Kabupaten Blora beberapa tahun belakangan ini. Produsen itu melakukan live di beberapa marketplace dengan menjual barang di bawah harga yang ia beli sebagai distributor.
“Udah banyak merek lokal yang ikut memasarkan online. Untuk produk saya sendiri, pabrik juga melakukan hal yang sama. Distributor hingga reseller nggak mungkin bisa jualan dengan harga diskon sejauh itu (diskon besar). Belum lagi admin marketplace tinggi,” ujarnya.
“Jadi distributor yang sudah buka store di tingkat kabupaten untuk sekarang ini kelimpungan melawan harga dari pabrik sendiri,” imbuh Anny.
Lebih lanjut, Anny berharap pemerintah dapat melihat fenomena tersebut, sehingga persaingan dagang antara penjualan di tingkat kabupaten dapat lebih sehat kembali.
“Mungkin pemerintah dapat mengatur jalanya distribusi barang dari pabrik ke konsumen, mungkin dengan memberi batas minimal pembelian di marketplace milik pabrik. Sehingga rantai-rantai distribusi barang tidak terpotong,” harap dia.
Disisi lain, Siswanto, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Blora melihat fenomena tersebut sebagai PR pemerintah pusat, khususnya Kementerian Perdagangan. Sehingga kemudahan pasar online tidak membunuh para pelaku usaha di tingkat Kabupaten.
“Para pelaku usaha di tingkat kabupaten juga sudah melek teknologi dengan memasarkan produk ke online. Namun adanya persaingan yang tidak sehat, dengan adanya produsen yang turut memasarkan di pasar online membuat pelaku usaha di Kabupaten kembang-kempis,” terang Siswanto yang juga menjabat ketua Asosiasi DPRD Kabupaten Seluruh Indonesia (ADKASI).
Selanjutnya, ia menilai kalau pola perdagangan seperti itu tetap dilanjutkan, maka produsen akan banyak ditinggalkan oleh distributor yang telah turut memasarkan dan mengenalkan produk di tingkat daerah.
“Para distributor sudah melakukan stok barang yang cukup banyak. Namun, saat ia ingin memasarkan produk ke pasar online, harus berhadapan dengan produsen produknya sendiri. Hal ini dapat membunuh pasar setiap distributor di setiap Kabupaten,” ungkap Siswanto.
Menurutnya, sudah seyogyanya produsen memasarkan harga ecer dengan harga tertinggi, dengan asumsi ecer di tingkat terbawah. Sehingga pasar online tetap kompetitif di tingkat Kabupaten.
“Kalau Produsen berasal dari kota-kota besar memasang harga ecer sesuai harga di tingkat terendah. Maka otomatis konsumen di Kabupaten akan tetap memperhitungkan ongkos kirim. Sehingga diharapkan konsumen dapat memilih lokasi terdekat dengan asumsi lebih ringan di ongkir,” terang Ketua Kadin Blora.(Fitri)
