
Denpasar, kabarterdepan.com – Sebuah fakta mengejutkan terungkap, Bali menjadi provinsi dengan angka kasus bunuh diri tertinggi di Indonesia.
Ahli forensik terkemuka, Dr. Djaja Surya Atmadja, mengungkapkan analisisnya bahwa tingginya beban sosial yang melekat pada tradisi masyarakat Bali, terutama konsep menyama braya, menjadi salah satu pemicu utama fenomena tersebut.
Hal tersebut disampaikannya dalam podcast X-Undercover, seperti dikutip dari Bali Express.
Dr. Djaja menjelaskan bahwa filosofi menyama braya, yang menekankan solidaritas dan tanggung jawab komunal yang kuat, meskipun memiliki sisi positif, justru dapat menjelma menjadi tekanan psikologis bagi sebagian individu. Keterikatan yang erat dengan komunitas dan kewajiban untuk berpartisipasi dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan, menurutnya, dapat terasa memberatkan.
“Saya pernah tinggal di Bali dengan teman saya di banjar, ternyata upacaranya banyak sekali. Kalau misalnya ada orang yang meninggal, saya harus pergi (melayat). Kalau tidak, nanti saya mati tidak ada yang datang,” ungkap Dr. Djaja, menggambarkan betapa kuatnya tekanan untuk selalu hadir dan terlibat dalam dinamika sosial masyarakat Bali.
Lebih lanjut, Dr. Djaja menyoroti bahwa frekuensi upacara adat yang tinggi seringkali dianggap sebagai sebuah keharusan, bukan lagi sekadar pilihan. Hal ini, dalam pandangannya, berpotensi menciptakan stres dan kejenuhan.
“Kadang buat orang-orang, ‘wah enak benar lu libur’. Tapi bagi orang Bali, itu adalah kewajiban,” jelasnya, mempertegas perbedaan persepsi antara masyarakat luar dan internal Bali terkait kewajiban sosial.
Sebuah perbandingan menarik diungkapkan oleh Dr. Djaja, yang menyebutkan bahwa meskipun Jakarta sebagai metropolitan memiliki kompleksitas permasalahan hidup yang tinggi, angka bunuh diri di ibu kota justru lebih rendah dibandingkan Bali.
“Bunuh diri itu perlu keberanian. Tidak semua orang berani bunuh diri,” pungkasnya, menyiratkan adanya faktor unik di Bali yang berkontribusi pada tingginya angka tersebut.
Menyikapi temuan ini, Senator RI asal Bali, Arya Wedakarna, angkat bicara dan menawarkan solusi yang cukup radikal. Melalui platform media sosialnya, ia mengusulkan adanya penyederhanaan upacara dan ritual agama, termasuk eedan karya.
Langkah ini, menurutnya, bertujuan untuk meringankan beban sosial yang dirasakan masyarakat Bali.
“Atau prajuru adat tidak boleh protes jika banyak anak muda Hindu akan pindah agama,” tulis Arya Wedakarna, dikutip pada Kamis (10/04/2025).
Pernyataan ini menunjukkan kekhawatiran sang senator terhadap potensi eksodus generasi muda jika tekanan sosial terus berlanjut.
Tak hanya itu, Arya Wedakarna juga memberikan pesan khusus kepada masyarakat Bali yang merasa terbebani.
“Bagi yang kuat jalankan, yang tidak kuat jangan bundir nggih, NKRI memberikan ruang pada warga untuk pindah agama dan keluar dari desa adat,” tegasnya, menyiratkan bahwa negara memberikan alternatif bagi mereka yang tidak mampu menanggung beban sosial dan tradisi.
Temuan dari Dr. Djaja Surya Atmadja dan usulan dari Senator Arya Wedakarna ini membuka ruang diskusi yang penting mengenai keseimbangan antara pelestarian tradisi dan kesejahteraan mental masyarakat Bali. Diharapkan, adanya perhatian dan solusi konkret dapat ditemukan untuk mengatasi tingginya angka kasus bunuh diri di Pulau Dewata. (Wij)
