Irritable Bowel Syndrome, Gangguan Pencernaan yang Sering Diabaikan

Avatar of Redaksi
WhatsApp Image 2025 04 11 at 10.50.56 023a0df5
Ilustrasi Irritable Bowel Syndrome. (iStock / Kabarterdepan.com)

Kesehatan, Kabarterdepan.com – Gangguan pencernaan bukan hal asing bagi banyak orang. Namun, ketika keluhan seperti nyeri perut, kembung, sembelit atau diare terus datang dan pergi selama berbulan-bulan, bisa jadi itu bukan sekadar sakit perut biasa. Kondisi itu dikenal sebagai IBS atau Irritable Bowel Syndrome.

Dalam podcast terbaru Kabar Terdepan terbaru bersama dr. Alfian Chandiardy, Kamis (10/4/2025), dr. Alfian menjelaskan secara mendalam mengenai IBS, sebuah kondisi kronis yang kerap terjadi namun masih jarang disadari atau dipahami oleh masyarakat.

“Penyakit ini sebenarnya cukup sering dialami. Tapi masyarakat sering bingung, kenapa sakit perutnya bolak-balik, kadang sembelit, kadang malah diare, kadang dua-duanya bergantian. Ini bisa terjadi seminggu sekali selama tiga bulan terakhir, dan kalau berlangsung selama enam bulan, bisa dikategorikan sebagai IBS,” ujar dr. Alfian.

IBS termasuk penyakit fungsional, bukan organik. Artinya, tidak ditemukan kelainan struktur pada organ pencernaan meski gejalanya nyata dan sangat mengganggu. Ini yang membuat IBS berbeda dari penyakit radang usus seperti IBD (Inflammatory Bowel Disease) yang ditandai adanya peradangan atau bahkan luka pada saluran cerna.

Gejala IBS bisa sangat bervariasi, mulai dari rasa nyeri dan kram di perut, perasaan tidak nyaman di ulu hati, hingga bloating atau rasa kembung dan penuh akibat gas berlebihan di dalam usus. Gangguan buang air besar pun menjadi ciri khas, dari yang terlalu keras, terlalu cair, hingga campuran di antara keduanya.

“Gas jadi banyak karena gerakan ususnya terganggu. Gas menekan ke ulu hati, bikin kembung, tidak nyaman, kadang disertai mual,” tambahnya.

Seberapa seriuskah IBS?

“IBS tidak menyebabkan kematian, tetapi bisa sangat mengganggu kualitas hidup. Bayangkan mau kerja, mau keluar rumah, bahkan duduk di kendaraan pun tidak nyaman. Ada rasa tertekan di perut, tidak tenang,” ungkap dr. Alfian.

Secara epidemiologis, IBS lebih banyak ditemukan pada wanita. Hal ini diduga berkaitan dengan pengaruh hormon serta aspek emosional dan psikologis yang lebih sensitif terhadap perubahan. Di beberapa negara, data menunjukkan angka penderita IBS pada wanita lebih tinggi dibanding laki-laki.

Penyebab IBS sendiri belum sepenuhnya dipahami. Namun, faktor-faktor seperti infeksi saluran cerna, penggunaan antibiotik jangka panjang, gangguan flora usus, hingga riwayat keluarga bisa menjadi pemicu. Bahkan, faktor genetik memiliki peran.

“Riwayat keluarga dengan IBS bisa menurunkan risiko ke anak atau keturunannya,” jelas dr. Alfian.

Dari sisi pola makan, penderita IBS perlu waspada terhadap makanan tinggi FODMAP seperti bawang-bawangan, jamur, madu, santan, sirup, brokoli, dan buah-buahan tertentu seperti apel, pir, dan plum. Sebaliknya, makanan yang dianjurkan meliputi sayur berdaun hijau (leafy greens) seperti bayam dan pakcoy, buah-buahan rendah gas seperti pisang dan jeruk, serta karbohidrat kompleks seperti nasi dan kentang.

Bagaimana dengan obat IBS?

Menurut dr. Alfian, pengobatan IBS bersifat suportif dan tidak ada satu obat spesifik yang benar-benar menyembuhkan. Obat herbal bisa menjadi pilihan pendukung, namun efektivitasnya terbatas dan tidak bisa digunakan saat gejala akut.

“Yang lebih penting adalah mengelola pola makan, stres, dan memperbaiki gaya hidup,” tegasnya.

Salah satu cara efektif mengelola IBS adalah dengan olahraga teratur, terutama yang bersifat ritmis seperti berjalan kaki, jogging, berenang, atau bersepeda. Aktivitas ini membantu menstabilkan hormon stres dan mengatur pergerakan usus agar lebih normal.

IBS memang bukan penyakit mematikan, tapi jika tidak ditangani dengan baik, bisa berdampak besar pada kehidupan sehari-hari. Mengenal dan memahami kondisi ini menjadi langkah awal untuk hidup lebih nyaman tanpa gangguan pencernaan yang membayangi. (Riris*)

Responsive Images

You cannot copy content of this page