
Yogyakarta, Kabarterdepan.com – Penutupan Plengkung Nirbaya atau Plengkung Gading pada Sabtu (15/3/2025) oleh Pemda DIY memberikan pengaruh besar kepada masyarakat yang setiap hari melakukan mobilitas melalui jalan tersebut.
Bangunan cagar budaya ini sebelumnya disebut dalam kajian Dinas PUPESDM DIY terkait pemberlakuan Sistem Satu Arah (SSA) dapat menjadi ancaman serius bagi pengguna jalan setelah ditemukan berbagai kondisi yang mengkhawatirkan.
Hal tersebut juga dikonfirmasi oleh Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dhian Laksmi Pratiwi yang menyatakan terdapat kerusakan yang terdokumentasi adalah penurunan bangunan sampai 10 cm.
Bahkan penanganan yang telah dilakukan belum mampu secara maksimal menghentikan laju penurunan di masa berikutnya.
Tidak hanya itu, Disbud DIY juga menyebut terjadi keretakan vertikal dan horizontal di sepanjang dinding dan sambungan struktur dan bagian lantai.
Terdapat juga potensi pengeroposan di dalam struktur bangunan akibat sistem jaringan drainase hujan yang dimiliki bangunan belum mampu berfungsi secara maksimal.
Pasalnya, pemerintah telah menyampaikan akan menutup akses jalur tersebut sampai waktu yang tidak ditentukan untuk dilakukan perawatan atas kerusakan dari pemetaan yang telah dilakukan.
Ketua RT 20, Patehan Keraton Yogyakarta, Muhammad Roihan Joni Saputra menyampaikan dirinya mengetahui informasi penutupan Plengkung Nirbaya secara mendadak.
Rumahnya yang berada di Jalan Patehan Kidul atau Jeron Beteng setiap pagi dipertontonkan langsung dengan tembok yang tebal berwarna putih. Tidak pemandangan yang leluasa untuk bisa dinikmati.
Dirinya perlu membiasakan diri dengan kondisi dan kebijakan yang ada Jeron Beteng tanpa ‘boleh’ menuntut banyak hal.
Saat diwawancarai, ia menyampaikan ditutupnya akses terdekat menuju luar Beteng akan menjadikan masyarakat semakin kesulitan.
Membutuhkan waktu dan jarak yang lebih jauh untuk akses ke luar Beteng seperti wilayah Tamansari untuk bisa keluar melalui sisi barat atau Panembahan dari sisi timur.
“(Penutupan) sangat berdampak pada warga yang berdomisili di sini. Dari dulu puluhan tahun saya disini. Adanya Plengkung Gasing disini untuk mobilitas sangat membantu,” kata pria yang Akrab disapa Roy tersebut saat diwawancarai kabarterdepan.com, Sabtu (15/3/2025).
Tak Ingin Jadi Kampung Mati
Dirinya khawatir jika ditutupnya Plengkung Nirbaya akan membuat wilayah Jeron Beteng menjadi kampung mati serta meningkatnya kriminalitas di malam hari.
Hal tersebut yang sebelumnya juga dirasakan oleh warga di pojok Beteng Kulon yang disebutnya berubah drastis usai ditutup oleh pihak berwenang.
“Dulu pojok Beteng kulon dibuka, sekarang sudah ditutup. Saat ini seperti kampung mati dan juga rawan kriminal. Itu yang kami juga khawatirkan,” katanya.
Roy menyampaikan bahwa akses Plengkung Nirbaya menjadi akses yang paling efektif menuju ke arah Kota Yogyakarta bagian selatan maupun sebaliknya.
Saat diwawancarai, ia menceritakan seorang lelaki tua yang setiap hari berjalan kaki melewati Plengkung Gading untuk mencari nafkah dengan menawarkan jasa membersihkan halaman rumah warga sekitar.
“Ada bapak-bapak umurnya 81 tahun, rumahnya di Ngadinegaran. Setiap hari bersih-bersih di sekitar sini. Terkadang saya juga minta bantuan ke bapaknya,” katanya
Ia membayangkankan betapa jauhnnya waktu yang diperlukan ke Jeron Beteng yang aksesnya paling memungkinkan melalui Mantrigawen atau Tamansari.
Bukan Menurun, Tapi Diaspal
Saat ditanya terkait kondisi Plengkung Nirbaya yang disebut mengalami perubahan kondisi yang mengkhawatirkan, ia menampik hal tersebut.
Terutama terkait adanya penurunan yang terjadi pada bangunan tersebut sedalam 10 centimeter. Ia menyampaikan jika penurunan tersebut merupakan dampak dari pengaspalan sehingga membuat permukaan menjadi naik.
“Kalau di logika nggak turun. Kan jalan di aspal terus, jadi kemungkinannya tertambal aspal. Itu ratusan tahun lho, kalau roboh pasti udah dari dulu,” katanya.
“Zaman saya kecil itu ditaruh mercon di dalam (besar), nggak jebol. Kalau runtuh udah dari dulu. Tapi kok baru sekarang di benahi,” imbuhnya.
Nestapa di Tengah Warisan Dunia
Menurutnya Plengkung Nirbaya yang menjadi bagian Beteng Keraton Yogyakarta selalu dirawat dengan baik karena merupakan bagian dari Sumbu Filosofis.
Sebagai warisan sejarah dan ditetapkanya World Heritage oleh UNESCO, berbagai penataan Sumbu Filosofis menurutnya tidak benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat yang ada di kawasan tersebut melainkan hanya sebagai daya pikat wisata.
Geliat masyarakat yang terganggu menurutnya tidak hanya dari dalam, namun juga dari luar Beteng. “Bukan hanya warga sini saja, tapi orang-orang yang mengambil jalur alternatif pasti akan merasa terganggu dengan adanya revitalisasi benteng sumbu filosofis yang bagi tidak ada dampak untuk warga,” jelasnya.
Ia menyampaikan warga Jeron Beteng hanya bisa pasrah dengan keinginan pemerintah maupun Keraton Yogyakarta sebagai pemilik wilayah (Kagungan Dalem).
Dinamika Wilayah
Sementara itu, Lurah Patehan Gunawan Sigit Putranto menyampaikan bahwa penutupan Plengkung Nirbaya sebagai dinamika yang terjadi dalam sebuah wilayah.
Penutupan tersebut sebelumnya sudah disosialisasikan di jajaran Keraton, Pemerintah Kota Yogyakarta, Pemprov DIY hingga level kelurahan. “Menurut kajian yang disampaikan Dinas Kebudayaan DIY, kondisi fisik Plengkung Nirboyo terjadi keretakan di sana-sini,”katanya.
“Terutama di bawah spion ruang intai itu sudah ada keretakan. Kalau tidak dilakukan penyelamatan akan berpengaruh pada struktur Plengkung sendiri,” ujarnya.
Ia menyebut penutupan akses akan berpengaruh kepada siswa-siswi yang sekolahnya berada di Jeron Beteng.
“Seperti misalnya warga masyarakat memiliki anak dan sekolah di Jeron Beteng seperti SD Keputran A, SD Keputran 2, SMP Muhammadiyah 5, SMP Negeri 16,” katanya.
Yang tinggal dan tinggal di luar benteng akan sangat merasakan penutupan plengkung Nirboyo, karena haus memutar jalur mengantar anak melewati Madyosuro atau Tamansari,” imbuhnya.
Hal tersebut juga berdampak pada ekonomi masyarakat yang memiliki usaha di Alun-alun Kidul (Alkid). Masyarakat yang ingin datang berwisata ke Alkid menurutnya juga akan semakin berkurang karena akses keluar masuk dari sisi selatan ditutup.
Sigit juga menjawab jika penutupan akses keluar masuk dari sisi selatan Beteng tersebut menimbulkan kerawanan adanya kejahatan malam hari.
Hal tersebut menurutnya tidak terlalu berpengaruh mengingat beberapa kamera CCTV sudah terpasang. Tertutupnya akses beteng menurutnya akan membuat pelaku kejahatan akan berpikir ulang karena merupakan jalan buntu.
Wacana Penggunaan Gerbang
Rencana pemberian Kori ataupun gerbang pada Plengkung Nirbaya, ia belum bisa berbicara banyak. Kendati begitu, jika hal itu dilakukan menurutnya juga tidak menjadi sebuah masalah.
“Untuk penutupan dalam gerbang atau pintu kami belum bisa matur (ngomong) karena masih masa uji coba. tapi nanti kalau akan ditutup gerbang atau kori, itu juga tidak menyalahi aturan,”katanya.
Sigit menyampaikan berdasarkan kondisi Plengkung Nirbaya dahulu memiliki pintu yang kemungkinan sudah dicopot rusak. Olehnya revitalisasi tersebut menurutnya untuk mengembalikan bentuk Plengkung Nirbaya seperti kondisi sebelumnya.
“Karena ada 3 engsel di satu sisi, ini menunjukkan bahwa di Plengkung Nirbaya dulu terdapat gerbangnya yang sudah rusak atau dicopot. Tapi di zamannya siapa, kami belum tahu,” katanya.
Mitigasi Bersama
Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Laksmi Pratiwi menyampaikan jika Penutupan ini berdasarkan penilaian terhadap kondisi Plengkung Nirbaya pasca penerapan SSA yang menunjukkan bahwa perlu adanya upaya konservasi menyeluruh.
Dian menyampaikan Potensi ancaman keselamatan pengendara juga menjadi pertimbangan agar tidak melewati jalur tersebut.
Selain itu, kondisi ini mulai berpotensi mengancam keselamatan pengendara yang melewati plengkung.
“Tidak hanya sebagai upaya mitigasi terhadap penyelamatan Plengkung Nirbaya saja, namun juga mitigasi terhadap keselamatan manusia dan kendaraan yang sangat mungkin terdampak dari kerentanan Plengkung Nirbaya tersebut,” katanya.
Oleh karena itu, pihaknya menyampaikan berupaya untuk mengantisipasi agar tidak ada potensi kecelakaan yang yang tidak diharapkan.
Penutupan secara mendadak dilakukan setelah sebelumnya dilakukan pemantauan dan penanganan benteng sejak 2015. “Kalau dilihat, akumulasi dampak yang muncul lebih parah dari yang diperkirakan,” ujarnya.
Oleh karena itu, Dian menyampaikan dibutuhkan ruang dan waktu secara maksimal untuk memetakan dan berbagai potensi kerentanan.
“Bahwa benar bangunan tersebut secara umum masih terlihat utuh namun terdapat kerentanan yang sangat tinggi,” katanya.
“Kerentanan ini tidak bisa hanya dikondisikan pada faktor-faktor yang membebaninya saja tetapi perlu dilakukan upaya penyelamatan terhadap struktur bangunan itu sendiri,” tutup Dian. (Hadid Husaini).
