Kabupaten Bantul Punya Teknologi Pengolahan Sampah ITF Bawuran, Bupati: Kita Dedikasikan untuk Daerah Lain

Avatar of Redaksi
IMG 20250312 WA0135
Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih saat memberikan sambutan dalam kolaborasi penanganan sampah di DIY, Selasa (12/3/2025) di ITF Bawuran, Pleret, Bantul, DIY. (Hadid Husaini/kabarterdepan.com) 

Bantul, Kabarterdepan.com – Kabupaten Bantul memperlihatkan kemandirian dalam pengelolaan sampahnya.

Hal tersebut diwujudkan dengan hadirnya incinerator atau pembakaran sampah yang ada di Intermediate Treatment Facility (ITF) Bawuran yang ada di Kapanewon Pleret.

Meskipun belum beroperasi secara resmi, tersebut menjadikan kapasitas pengolahan sampah di Bantul lebih maksimal mengingat sudah adanya beberapa Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST).

Dalam memperingati Hari Sampah Nasional dan kolaborasi antar wilayah dalam mewujudkan DIY Bersih, ITF Bawuran turut diperkenalkan kepada para kepala daerah.

Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih menyampaikan Intermediate Treatment Facility (ITF) Bawuran bakal mampu membakar 50 ton sampah residu per hari dari 300 ton timbulan sampah yang diolah.

“Ini dapat meng insinerasi 50 ton sampah per hari dari sampah residu, Masih ada sampah yang tidak bisa dimanfaatkan itu dipilah dan dihanguskan yang nanti outputnya adalah abu” katanya saat diwawancarai wartawan dalam kolaborasi penanganan sampah di ITF Bawuran, Pleret, DIY, Selasa (11/3/2025).

Ia menyebut jika sari total timbulan sampah di Bumi Projotamansari sebesar 15 persen yang merupakan sampah residu. Untuk bantul disebutnya memiliki potensi sampah sebesar 276 ton per hari.

Kendati begitu, pihaknya menyampaikan jika ITF Bawuran tidak dikhususkan untuk sampah yang hanya berasal dari Bantul.

Halim menyampaikan akan bekerjasama dengan beberapa daerah seperti Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman yang juga memiliki potensi sampah yang cukup besar.

Terkait tarif, insinerator nanti akan dikenakan biaya kisaran Rp450 ribu per ton. Pihaknya juga berencana untuk memformulasi tarif insinerasi tersebut.

“Tarifnya ini nanti kalau beberapa kerjasama MoU Rp 450 ribu untuk meng insinerasi dengan beberapa pihak tapi ini nanti akan kita formalkan salam peraturan tentang tarif pengolahannya sampah supaya seragam di wilayah Bantul,” katanya.

Halim menyampaikan ke depan potensi pengolahan sampah akan lebih banyak dengan banyaknya TPST seperti Modalan, Niten, dan Dingkikan.

Meskipun beberapa saat ini masih dalam perbaikan, ia menyampaikan bahwa pengolahan sampah di Bumi Projotamansari akan bisa dimaksimalkan setelah beroperasi.

TPST nantinya disebut Halim akan berbentuk Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). “Jadi dia (BLUD) semi perusahaan. Bisa mengelola anggaran sendiri. Istilah jawanya disapih APBD,” katanya.

“Jadi tidak banyak lagi bantuan APBD, kecuali penyertaan modalnya,” ujarnya.

Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tersebut yakin Bantul Bersih Sampah 2025 (Bersama) dapat diwujudkan dengan potensi pengolahan sampah yang dimiliki. (Hadid Husaini).

Responsive Images

You cannot copy content of this page