Hotman Paris Kritik Keras Ahok soal Mega Korupsi Pertamina: Kenapa Baru Bicara Sekarang?

Avatar of Redaksi
MEITU 20250302 142432308 11zon scaled
Potret Pengacara Hotman Paris Hutapea (kiri) sata mengkritik Ahok (kanan). (Redaksi / Kabarterdepan.com)

Nasional, Kabarterdepan.com – Pengacara Hotman Paris Hutapea melontarkan kritik pedas terhadap Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok terkait pernyataannya soal dugaan korupsi besar di tubuh Pertamina.

Hotman heran mengapa Ahok baru angkat bicara sekarang, padahal ia pernah menjabat sebagai Komisaris Utama perusahaan pelat merah tersebut.

Pernyataan Ahok yang mengaku siap membongkar skandal yang lebih besar di Pertamina dan bersedia dipanggil Kejaksaan Agung memicu respons keras dari Hotman.

Menurutnya, Ahok seharusnya sudah melaporkan dugaan penyimpangan saat masih menjabat.

Hotman mempertanyakan apakah selama beberapa tahun menjabat, Ahok pernah mencurigai adanya praktik ilegal dalam distribusi bahan bakar.

Ia menyoroti isu pencampuran bensin murah menjadi bensin mahal yang diduga merugikan negara.

“Pertanyaan kepada Ahok hanya satu, pernah nggak dia selama beberapa tahun menjabat sebagai Komisaris Utama, pengawas induk dan anak perusahaan, pernah nggak dia mencurigai ada pencampur bensin murah menjadi bensin mahal?” ujar Hotman dilansir dalam sebuah video yang beredar.

Tak hanya itu, Hotman juga menantang Ahok untuk mengungkap pihak yang pernah menerima laporannya, jika memang ia sudah mengetahui adanya penyimpangan tersebut sejak dulu.

“Kalau dia bilang pernah, maka pertanyaannya kepada siapa dia pernah melapor biar kita demo habis-habisan. Kalau waktu dia jadi komisaris dia sudah mencurigai bensin murah dirubah menjadi bensin mahal, lapor ke siapa dia? Kalau benar ada, kita mendukung Ahok. Tapi ini kan tidak ada,” tegasnya.

Lebih lanjut, Hotman menilai jika Ahok tidak mengetahui adanya skandal korupsi besar saat masih menjabat, maka itu adalah bentuk kegagalannya sebagai Komisaris Utama Pertamina.

Ia menegaskan bahwa dengan gaji miliaran per bulan, Ahok seharusnya memiliki tanggung jawab lebih dalam mengawasi perusahaan.

“Kalau memang dia tidak tahu sama sekali padahal itu korupsi besar-besaran, itu kegagalan Komisaris Utama. Suka atau tidak, tahu atau tidak harus dianggap bersalah karena dia dibayar miliaran tiap bulan upahnya,” pungkas Hotman. (Riris*)

Responsive Images

You cannot copy content of this page