Hadapi HBKN 2025, BI DIY Bersama TPID Optimis Bisa Kendalikan Pasokan Barang

Avatar of Redaksi
Screenshot 20250225 181825
Kepala Kantor Bank Indonesia (BI) DIY, Ibrahim saat memaparkan kebijakan BI tahun 2025, Senin (24/2/2025) di Kurnia Seafood, Sleman. (Hadir Husaini/kabarterdepan.com) 

Sleman, Kabarterdepan.com – Kantor Bank Indonesia (BI) Wilayah Yogyakarta berupaya untuk melakukan berbagai penyesuaian kebijakan bersama dengan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) untuk menjaga harga di pasar tetap stabil terutama menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) tahun 2025.

Kepala Kantor BI DIY, Ibrahim menyampaikan jika setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh BI akan disesuaikan dengan situasi di lapangan.

“Dulu berhasil diterapkan, tetapi di waktu berbeda kurang optimal. Oleh karena itu perlu ada inovasi sesuai dengan tantangan yang ada,” katanya saat menggelar rilis terkait kebijakan BI tahun 2025 di Kurnia Seafood, Ngentak, Caturtunggal, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Senin (24/2/2025).

Ibrahim menilai terjadi volatilitas harga pada momen HBKN disebabkan beberapa komoditas justru seringkali mengalami penurunan supply karena tidak sesuai dengan siklus yang sedang berlangsung, sedangkan permintaan terus meningkat.

Oleh karena itu, ia menuturkan penting agar pemerintah bisa menjaga ketersediaan pasokan melalui serapan pertanian yang maksimal. Selain itu pihaknya juga meminta masyarakat untuk bisa berbelanja kebutuhan secara bijak agar pasokan di pasar tetap terjaga.

Ibrahim menambahkan, pihaknya juga belajar dengan kondisi beberapa komoditas di DIY dari waktu ke waktu yang perlu diwaspadai yang selama ini menjadi penyumbang inflasi dalam. Kondisi tersebut menurutnya dapat menjadi pembelajaran dalam memberikan kewaspadaan dalam mengambil kebijakan.

“Perhatian kita semuanya kita lihat beberapa komoditas penyumbang inflasi waspadai tiap tahun seperti 2021, 2022, 2023, 2024, tekanan inflasi setidaknya itu yang memberikan experience yang perlu diwaspadai,” katanya.

Dirinya mencontohkan kasus yang terjadi dalam beberapa tahun belakangan dimana beberapa komoditas mengalami kenaikan harga di luar perkiraan, seperti menurunnya suplai air mineral saat lebaran hingga yang terbaru terkait dengan menipisnya LPG 3 Kg saat musim liburan di awal tahun 2025.

Hal tersebut yang menjadikan kepanikan di masyarakat sehingga kondisi komoditas di pasar menjadi tidak terkontrol dengan harga yang melonjak drastis.

“Itu kita pastikan (2025) tidak akan ada lagi, kita pastikan pasokannya aman terutama di masa liburan. Kita belajar dari pengalaman yang sudah ada melalui Tim TPID,” ujarnya.

Pihaknya juga menyampaikan berupaya untuk melakukan strategi baik jangka pendek maupun jangka panjang untuk menstabilkan harga pasokan bahan makanan yang berpotensi menyumbang inflasi.

Strategi tersebut dilakukan dengan memberikan bantuan berupa air dan pompa pertanian. Selain itu ia juga menekankan peran off taker untuk bisa menyerap hasil pertanian.

“Offtaker ini sangat penting bagi petani, terutama saat hari raya agar produknya bisa diserap oleh pedagang atau pemerintah daerah bekerjasama dengan KAD (Kerjasama Antar Daerah). Artinya tidak ada harga yang jatuh di sana,” katanya.

Ia juga menyampaikan bahwa peran Offtaker juga sangat penting saat diluar musim panen untuk menyimpan stok pangan yang cukup sehingga dapat menjaga kondisi kebutuhan di setiap waktu dan setiap wilayah. (Hadid Husaini)

Responsive Images

You cannot copy content of this page