
Jakarta, Kabarterdepan.com – Para peneliti di Australia mengembangkan sistem berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk memantau kondisi Great Barrier Reef di lepas pantai Queensland secara real-time.
Sistem ini dikembangkan oleh University of South Australia (UniSA) dengan kolaborasi ilmuwan dari Queensland dan Victoria.
Platform AI ini menggabungkan data dari foto, video, citra satelit, dan sensor laut.
Dengan menggunakan pembelajaran mesin, data tersebut dianalisis dan ditampilkan dalam dasbor pusat untuk memberikan gambaran menyeluruh tentang kondisi terumbu karang.
Great Barrier Reef, yang terdaftar sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, telah mengalami kerusakan parah sejak 2016 akibat pemutihan karang.
Selain itu, ledakan populasi bintang laut mahkota duri (crown-of-thorns starfish) dan pembangunan pesisir juga memperburuk keadaan terumbu karang.
Secara global, sekitar 75 persen terumbu karang menghadapi tekanan suhu ekstrem dalam dua tahun terakhir sebagai dampak dari krisis iklim dan pemanasan laut.
Sistem ini akan mengintegrasikan data dari berbagai lembaga, termasuk National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), Monterey Bay Aquarium Research Institute (MBARI), Hawaii Undersea Research Laboratory (HURL), dan CSIRO Australia.
Para ilmuwan berpendapat bahwa platform ini dapat menjadi alat penting dalam upaya pelestarian terumbu karang.
“Selama ini, kita memiliki berbagai model yang menganalisis data tentang kesehatan terumbu karang, seperti tingkat pemutihan, kejadian penyakit, kepadatan karang muda, dan kelimpahan ikan karang. Namun, data ini belum terintegrasi dan tersebar,” kata Abdullahi Chowdhury, analis data UniSA dan peneliti utama dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Electronics, seperti yang dikutip dari The Engineer, pada 16 Februari 2025.
Akibatnya, sulit untuk mendapatkan gambaran menyeluruh tentang kesehatan terumbu karang atau melakukan analisis dalam skala besar secara langsung.
Sistem ini memungkinkan pemantauan tingkat pemutihan karang, populasi bintang laut mahkota duri, penyebaran penyakit, serta kelangsungan hidup karang muda.
Selain itu, kelimpahan dan keanekaragaman ikan karang juga dapat dipantau lebih akurat.
“Dengan mengintegrasikan semua data ini secara langsung, kami dapat mengembangkan model prediktif yang akan mendukung upaya konservasi dan memungkinkan intervensi lebih cepat,” ujar Musfera Jahan, kandidat PhD di Central Queensland University dan pakar sistem informasi geografis (GIS).
Terumbu karang kita sedang mengalami kerusakan yang sangat cepat akibat perubahan iklim, tidak hanya di Australia, tetapi di seluruh dunia.
Oleh karena itu, kita harus segera mengambil langkah-langkah serius. (Tantri*)
