
Mojokerto, Kabarterdepan.com – Kecanduan gula (sugar addict) merujuk pada kondisi seseorang yang memiliki ketergantungan berlebihan terhadap konsumsi gula, yang dapat mengubah struktur dan fungsi otak, serta memengaruhi emosi dan perilaku.
Dalam sebuah podcastnya dr. Alfian Chandiary mengungkapkan jika seseorang ingin mengurangi ketergantungan terhadap gula, langkah awal yang bisa dilakukan adalah mengganti makanan dan minuman manis dengan buah yang tinggi serat.
Dengan begitu, tubuh dapat menyesuaikan diri secara perlahan tanpa mengalami efek yang terlalu drastis.
“Kecanduan, baik itu alkohol, rokok, atau gula, tidak bisa dihentikan secara tiba-tiba. Jika sebelumnya seseorang terbiasa mengonsumsi makanan manis seperti roti, tepung, atau minuman bergula, maka langkah awal yang bisa dilakukan adalah menggantinya dengan pilihan yang lebih sehat,” tambahnya.
Berbagai penelitian mengungkapkan bahwa konsumsi sukrosa dalam jumlah besar dapat mengaktivasi sistem mesocorticolimbic di otak, yang juga terlibat dalam kecanduan zat adiktif lain, seperti opioid, kokain, nikotin, dan alkohol.
Kecanduan gula dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan, terutama obesitas, yang menjadi salah satu masalah kesehatan yang semakin meningkat.
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi obesitas pada individu di atas usia 18 tahun adalah sekitar 21,8%, dan angka ini diperkirakan akan terus bertambah seiring waktu.
Sejarah Penelitian Kecanduan Makanan
Istilah “kecanduan makanan” pertama kali diperkenalkan oleh Theron Randolph pada tahun 1956 dalam penelitiannya, yang menyatakan bahwa berbagai jenis makanan, seperti jagung, susu, telur, dan kentang, dapat memicu perilaku kecanduan pada seseorang.
Penelitian ini membuka jalan bagi studi-studi lebih lanjut mengenai kecanduan terhadap makanan tertentu, khususnya makanan yang mengandung gula.
Sejak saat itu, berbagai penelitian telah dilakukan untuk mengeksplorasi lebih dalam hubungan antara konsumsi makanan tertentu, terutama makanan yang mengandung banyak gula, dan perubahan perilaku serta keadaan emosional individu.
Salah satu ulasan komprehensif yang ditulis oleh Jacques et al. pada tahun 2016 mempelajari lebih dari 300 studi mengenai hubungan antara konsumsi gula, stres, dan emosi.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsumsi gula dapat mempengaruhi neurobiologi otak, terutama dengan mengubah sistem dopaminergik yang berperan dalam regulasi emosi dan perilaku.
Hubungan Antara Konsumsi Gula, Stres, dan Emosi
Dalam ulasan tersebut, ditemukan bahwa setelah mengonsumsi gula, terjadi perubahan dalam neurokimia otak, termasuk adaptasi saraf yang memengaruhi emosi dan perilaku seseorang.
Gula diketahui dapat memicu pelepasan dopamin, neurotransmitter yang berhubungan dengan sistem penghargaan otak, yang menyebabkan perasaan puas dan senang. Hal ini memicu seseorang untuk ingin mengulanginya, yang mirip dengan pola kecanduan terhadap zat adiktif lainnya.
Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa konsumsi gula berlebihan dapat berhubungan dengan gangguan emosi seperti stres, kecemasan, dan depresi.
Misalnya, uji praklinis dan klinis banyak yang menunjukkan adanya sinergi antara konsumsi gula dan perubahan neurobiologis yang berhubungan dengan emosi, yang pada gilirannya dapat memengaruhi perilaku seseorang dalam konsumsi makanan.
Penelitian Mengenai Binge Eating dan Kecanduan Makanan
Sebuah penelitian kualitatif yang dilakukan oleh Pretlow pada periode 2000-2012 terhadap 29.406 remaja dengan masalah berat badan mengungkapkan bahwa makanan yang paling sering dikonsumsi pada gangguan makan berlebihan (binge eating disorder) adalah makanan manis, yang diikuti dengan makanan tinggi lemak.
Meskipun demikian, penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan, terutama terkait metode pengumpulan data yang tidak dapat memastikan hubungan kausal secara langsung.
Studi lain yang dilakukan oleh Fowler et al. pada tahun 2015 menemukan bahwa beberapa jenis makanan, terutama yang mengandung gula, memiliki potensi adiktif yang tinggi, terutama pada pasien yang telah menjalani operasi bariatrik (penurunan berat badan).
Penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun berat badan mereka telah berkurang secara signifikan setelah operasi, pasien tetap menunjukkan pola kecanduan terhadap makanan tertentu yang kaya gula.
Dampak Kesehatan dari Kecanduan Gula
Kecanduan gula, apabila tidak ditangani dengan baik, dapat mengarah pada sejumlah masalah kesehatan serius, termasuk obesitas, diabetes tipe 2, penyakit jantung, dan gangguan metabolik lainnya.
Meningkatnya prevalensi obesitas di kalangan masyarakat, terutama yang berkaitan dengan konsumsi gula berlebihan, menjadi perhatian utama bagi para profesional kesehatan.
Kecanduan gula juga dapat memengaruhi kesehatan mental, memperburuk gejala stres, kecemasan, dan depresi, serta berkontribusi pada gangguan makan seperti binge eating disorder. (Tantri*)
