
Teknologi, Kabarterdepan.com – Samsung tengah bersiap untuk meluncurkan lini flagship terbarunya pada tahun 2025, dan berbagai spekulasi mengenai peningkatan spesifikasi pun mulai bermunculan. Salah satu isu yang ramai diperbincangkan adalah kemungkinan peningkatan kapasitas baterai pada seri Galaxy S25. Beberapa bocoran bahkan menyebutkan bahwa Galaxy S26 Ultra akan dibekali baterai berkapasitas 7.000mAh, atau meningkat 2.000mAh dibanding model tahun ini.
Tren Teknologi Baterai di Pasar Smartphone
Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai merek smartphone asal Tiongkok telah mengadopsi teknologi baterai berbasis silikon-karbon. Teknologi ini menawarkan kepadatan energi yang lebih tinggi sehingga memungkinkan kapasitas baterai lebih besar tanpa harus memperbesar dimensi fisiknya. Akibatnya, kapasitas baterai 6.000mAh kini sudah menjadi standar bagi banyak ponsel keluaran Tiongkok.
Namun, apakah Samsung akan segera mengikuti tren ini? Seorang tipster dengan akun @PandaFlashPro menepis spekulasi tersebut. “Saya akan menghapus akun Twitter saya jika Samsung memberikan Galaxy S26 Ultra baterai 7.000mAh atau bahkan 6.000mAh. Berdasarkan informasi dari lima sumber saya, laboratorium pengujian internal Samsung hanya memiliki kapasitas maksimum 5.500mAh,” klaimnya.
Samsung vs. Pasar Global: Strategi Berbeda
Samsung selama ini memiliki pendekatan yang berbeda dibandingkan para pesaingnya di Tiongkok, terutama dalam hal adopsi teknologi baterai. Pasar AS dan Eropa tidak terlalu menuntut peningkatan kapasitas baterai secara agresif, berbeda dengan pasar Tiongkok yang lebih kompetitif dalam aspek spesifikasi perangkat keras. Hal ini juga berkaitan dengan strategi Samsung yang cenderung mengikuti langkah Apple dalam inovasi, terutama di pasar global.
Namun, ada indikasi bahwa Samsung semakin condong ke arah desain ponsel yang lebih tipis. Tahun lalu, mereka merilis Galaxy Z Fold SE yang lebih ramping. Tahun ini, mereka menggoda pasar dengan Galaxy S25 Edge, yang disebut-sebut sebagai seri Galaxy S tertipis yang pernah dibuat. Selain itu, rumor juga menyebutkan bahwa Samsung tengah mengembangkan Galaxy Z Fold 7 dengan desain lebih ramping.
Dengan tren ini, masuk akal jika Samsung memanfaatkan teknologi baterai silikon-karbon untuk menjaga desain tetap tipis sambil meningkatkan atau mempertahankan kapasitas baterai. Meski begitu, hingga saat ini belum ada laporan atau bocoran yang secara konkret mendukung spekulasi tersebut.
Kesimpulan
Samsung mungkin tidak akan terburu-buru meningkatkan kapasitas baterai Galaxy S26 Ultra secara drastis, terutama karena strategi mereka lebih mengutamakan efisiensi desain dibandingkan sekadar meningkatkan angka spesifikasi. Sementara pesaing dari Tiongkok terus berinovasi dengan baterai berkapasitas besar, Samsung tampaknya akan tetap bermain aman dengan peningkatan bertahap. Jika tren desain tipis terus berlanjut, kemungkinan besar teknologi baterai silikon-karbon akan digunakan untuk menjaga keseimbangan antara daya tahan baterai dan estetika perangkat.
Bagi para pengguna, hal ini berarti mereka masih bisa mengharapkan peningkatan efisiensi baterai tanpa harus mengorbankan kenyamanan dalam genggaman. Namun, apakah ini akan cukup untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat di industri smartphone? Hanya waktu yang bisa menjawabnya. (*)
