
Kuliner, Kabarterdepan.com – Minuman bandrek telah dikenal sejak zaman Kerajaan Galuh yang berdiri pada tahun 612 Masehi, di bawah pemerintahan Raja Sang Wretikandayun. Dalam Naskah Nagara Kreta Bhumi, yang mencatat sejarah dan budaya kerajaan tersebut, bandrek termasuk dalam salah satu minuman tradisional yang terjaga eksistensinya hingga saat ini.
Selain itu, bandrek juga tercatat dalam Babad Kawung Kawali Galuh dan Babad Carbon II sebagai bagian dari minuman dalam upacara adat di Kesultanan Cirebon, yang didirikan oleh Pangeran Cakrabuana (atau lebih dikenal dengan nama Walangsangsang) pada tahun 1430 Masehi.
Minuman Bandrek Khas Sunda

Resep bandrek yang ada pada masa itu menggunakan bahan-bahan alami yang ditemukan di sekitar kehidupan masyarakat Sunda, seperti gula kawung (gula aren), jahe tua, gula merah, gula pasir, serai, daun pandan, kayu manis, cengkih, garam, air, cabe jawa kering, dan kelapa muda. Salah satu hal yang membedakan cara pembuatan bandrek adalah proses pembakaran jahe hingga kering di atas bara api sebelum bahan-bahan lainnya dimasukkan dan dimasak.
Setelah bahan-bahan dimasukkan, air direbus hingga mendidih dan menyusut. Proses ini memberikan rasa khas yang kuat pada bandrek. Setelah dimasak, bandrek disaring dan disajikan dalam keadaan hangat, yang dipercaya dapat menghangatkan tubuh dan menyegarkan tubuh terutama saat cuaca dingin.
Wedang Ronde

Minuman ronde, di sisi lain, muncul sebagai dampak dari akulturasi budaya Tionghoa yang mulai memasuki Indonesia. Salah satu pengaruh terbesar adalah hadirnya makanan dan minuman khas Tionghoa, seperti tangyuan, yang menjadi cikal bakal dari wedang ronde yang kita kenal sekarang.
Tangyuan adalah salah satu hidangan penutup khas Tiongkok yang berbentuk bola-bola ketan dengan kuah manis yang terbuat dari air gula. Tangyuan menjadi sangat populer dalam perayaan Festival Lentera (Yuanxiao) yang merupakan salah satu perayaan penting dalam budaya Tionghoa, yang jatuh pada hari ke-15 bulan pertama dalam kalender Tionghoa. Dalam perayaan tersebut, tangyuan dianggap sebagai simbol kebersamaan keluarga, karena bentuk bola bundar dan penyajiannya dalam satu mangkuk melambangkan keharmonisan dan kebersamaan.
Proses pembuatan tangyuan cukup sederhana; tepung ketan dicampur dengan air dan dibentuk menjadi bola-bola kecil, kemudian dimasak dalam air mendidih hingga mengapung, menandakan bahwa tangyuan telah matang.
Tangyuan bisa berisi atau tidak berisi dengan berbagai macam isian, seperti kacang tanah atau pasta kacang merah. Pada masa pemerintahan Dinasti Song (960 M), tangyuan sudah menjadi camilan yang sangat digemari, dan nama “tangyuan” sendiri pada masa pemerintahan Yuan Shikai (1912-1916) mendapat arti baru sebagai “bola bundar dalam sup”. Dalam dialek Hakka dan Kanton, nama tangyuan disebut dengan “tong rhen” dan “tong jyun”, meskipun istilah “tangtuan” lebih jarang digunakan.
Masuknya budaya Tionghoa ke Indonesia, khususnya di kota Bandung, mulai terlihat pada tahun 1825, setelah Perang Diponegoro yang menyebabkan banyak orang Tionghoa datang ke Nusantara. Kehadiran mereka semakin meningkat ketika pembangunan rel kereta api di Bandung pada tahun 1869 membuka lapangan pekerjaan baru.
Akulturasi budaya ini kemudian melahirkan variasi minuman ronde yang berbeda dengan aslinya. Masyarakat Bandung mulai mengadopsi resep ronde dengan menambahkan bahan-bahan lokal dan rempah khas Indonesia, seperti jahe. Selain itu, penggunaan tepung ketan yang lebih dominan juga memberi rasa khas pada ronde.
Minuman ronde di Bandung pada umumnya menggunakan bahan utama berupa tepung ketan putih yang dicampur dengan sedikit air untuk membentuk bola-bola ketan. Namun, ada tambahan bahan tepung tangmien (tepung terigu dengan kandungan gluten yang tinggi) yang memberikan tekstur bola ronde lebih bening dan mengkilat.
Bola ronde ini kemudian dimasak dalam air mendidih dan disajikan dalam kuah jahe yang manis, biasanya dengan tambahan kacang tanah sangrai yang telah dicincang halus, kolang-kaling yang diiris tipis, serta pewarna alami untuk memberikan sentuhan warna yang menarik. Beberapa variasi juga menambahkan bahan pewarna merah dan hijau untuk bola ronde, yang memperkaya tampilan dan cita rasa minuman ini.
Penyebaran budaya Tionghoa di Bandung juga terlihat dari cara masyarakat memodifikasi ronde agar sesuai dengan selera lokal. Ronde yang awalnya hanya bola ketan dengan kuah manis, kini berkembang menjadi wedang ronde yang disajikan dalam kuah jahe yang hangat dan pedas, sangat cocok untuk menghangatkan tubuh, terutama di musim hujan.
Kehadiran ronde dalam kehidupan masyarakat Bandung pun menciptakan ikon kuliner khas yang menggambarkan bagaimana akulturasi budaya Tionghoa dan tradisi lokal bersatu.
Baik bandrek maupun ronde memiliki sejarah panjang yang dipengaruhi oleh berbagai kebudayaan, dengan masing-masing minuman mencerminkan identitas dan tradisi masyarakatnya.
Bandrek tetap menjadi minuman tradisional yang digunakan untuk menghangatkan tubuh dan menjaga kesehatan, sementara ronde, hasil akulturasi budaya Tionghoa, kini menjadi minuman yang sangat disukai masyarakat Indonesia, khususnya di Bandung, dengan cita rasa manis, pedas, dan gurih yang khas. Kedua minuman ini tetap eksis dalam kehidupan sehari-hari, menyajikan kisah panjang perjalanan budaya yang membentuk rasa dan tradisi Indonesia. (Tantri*)
