Pihak Travel Angkat Bicara Soal Outing Class SMPN 7 Kota Mojokerto

Avatar of Redaksi
SmartSelect 20250211 185056 Gallery
Logo Majapahit Tour & Travel (Redaksi / Kabarterdepan.com)

Kota Mojokerto, Kabarterdepan.com – Musibah laka laut yang menimpa rombongan SMPN 7 Kota Mojokerto saat melakukan outing class di Pantai Drini, Yogyakarta, masih menyisakan banyak pertanyaan. Berbagai pihak dituntut bertanggung jawab atas kejadian ini, termasuk pihak travel penyelenggara, Majapahit Tour & Travel.

Pemilik Majapahit Tour & Travel, Dani Arihadi, akhirnya angkat bicara mengenai insiden ini. Ia menjelaskan bahwa pihaknya hanya berperan sebagai penyedia jasa perjalanan wisata dan telah memberikan berbagai pilihan kepada sekolah dan wali murid sebelum keberangkatan.

“Kita itu sistemnya door to door ke instansi, ke sekolah, ke perusahaan. Jadi pas ada event baru kita mengajukan,” ungkapnya saat ditemui, Selasa (11/2/2025).

Dani juga merinci bahwa paket wisata yang ditawarkan bukan sekadar perjalanan wisata biasa, melainkan memiliki unsur edukatif.

“Biayanya Rp500 ribu, karena kita tidak hanya wisata tapi ada edukasinya dalam bentuk keterampilan, kesenian, dan pembelajaran kurikulum yang masuk dalam P5,” jelasnya.

Dalam proses pemilihan destinasi, Dani menegaskan bahwa keputusan akhir berada di tangan siswa dan wali murid.

“Kita dari pihak travel memberikan penawaran ke Malang sama ke Jogja, kemudian di-share ke wali siswa. Siswa dan wali siswanya sendiri yang memilih ke Jogja,” katanya.

Menurutnya, Jogja menjadi pilihan karena beberapa faktor, termasuk biaya yang tidak jauh berbeda dengan Malang.

“Kenapa Jogja? Karena dari segi harga tidak jauh beda dibandingkan ke Malang kalau dari versi travel sebagai penyedia jasa layanan pariwisata. Malang lebih mahal karena walaupun jaraknya jauh Jogja, tapi seperti makan, tiket wisata, lebih mahal Malang, dan dari segi oleh-oleh juga kurang recommended di Malang. Mungkin itu yang menjadi pertimbangan mereka kalau menurut saya dari pihak travel,” terangnya.

Dani mengungkapkan bahwa pihaknya sudah memiliki standar operasional dalam perjalanan wisata, termasuk keberadaan pemandu dalam setiap bus.

“Jadi standarisasi dari pariwisata itu setiap bus satu pemandu dan kebetulan di travel saya sudah pasti ada dokumentasi selama perjalanan,” katanya.

Tugas tour leader, menurutnya, adalah memberikan informasi serta mengingatkan peserta mengenai berbagai peraturan selama perjalanan.

“Tugas dari tour leader sendiri adalah memberi informasi kepada klien seperti memberitahukan nanti kita perjalanan menuju ke Jogja kurang lebih 5 sampai 6 jam, kita akan transit di rest area ini toiletnya berada di sini, sholatnya di sini. Larangan-larangannya juga seperti di bus itu tidak boleh nge-charge pakai powerbank. Ini adalah tugasnya leader mengingatkan dan mengontrol,” jelas Dani.

Bahkan, sebelum perjalanan dimulai, pihak travel telah melakukan briefing kepada seluruh peserta.

“Jadi sebelum naik bus pun kita ada briefing ya. Kita briefing seluruh peserta, siswa, bahkan ada wali siswa juga yang pengantar itu ada masih di lapangan. Kita himbau dan kita berikan aturan-aturannya,” tegasnya.

Namun, Dani menyadari bahwa mengingatkan peserta bukanlah tugas yang mudah.

“Tapi bagaimanapun kita selaku pemandu atau jasa transportasi ya tetap gak boleh capek untuk mengingatkan,” ujarnya.

Dani menjelaskan bahwa dalam setiap perjalanan, pihak travel selalu memiliki dua versi rundown yang bersifat fleksibel.

“Rundown yang buat dari travel itu ada dua versi rundown, yang pertama itu kita revisi. Rundown sendiri itu sifatnya tentatif ya,” katanya.

Meski menghadapi banyak tuduhan, Dani menegaskan bahwa ia tidak mencari pembenaran atau menyalahkan pihak lain dalam kejadian ini.

“Dalam musibah ini, saya gak mencari pembenaran dan juga tidak mencari kesalahan. Kita itu kooperatif, kooperatif sama pihak berwajib, kooperatif sama media, kooperatif sama wali siswa,” ujarnya.

Dani juga menyebut pihaknya ikut bertanggungjawab atas pembiayaan korban tragedi tersebut.

“Saya yang ngurusi semua dengan biaya mandiri. Jenazah, kepulangan jenazah dari awal sampai korban yang masih dirawat, saya fasilitasi semua mandiri,” tegasnya.

Saat tragedi terjadi, Dani berada di lokasi. Namun, ia menegaskan bahwa tidak ada yang melihat langsung insiden tersebut kecuali penjaga pantai dan nelayan yang memberikan pertolongan.

“Jadi kalau lihat secara langsung tidak ada yang melihat, yang melihat adanya penjaga pantai sama nelayan yang menolong,” katanya.

Dani menutup pernyataannya dengan menyerahkan sepenuhnya kasus ini kepada pihak berwenang.

“Biarkan ini sudah ditangani pihak yang berwajib, korban juga sudah ada tuntutan, biarkan itu berjalan. Kita menghormati proses-proses hukum yang berjalan. Saya pun sudah dimintai di BAP, jadi yang saya tegaskan ke pihak yang berwajib ya kita kooperatif,” pungkasnya.

Hingga kini, proses penyelidikan terkait insiden ini masih terus berlanjut. Pihak keluarga korban dan masyarakat berharap agar kejadian serupa tidak terulang kembali di masa mendatang. (Tim Redaksi*)

Responsive Images

You cannot copy content of this page