
Mojokerto, Kabarterdepan.com – Organisasi Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (Kopri PMII) Mojokerto menggelar sosialisasi pencegahan kekerasan dan pelecehan seksual di SMP Islam Brawijaya, Kota Mojokerto, pada Selasa (11/2/2025) pagi. Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Dinas Sosial Kota Mojokerto sebagai langkah strategis dalam menekan angka kasus kekerasan di lingkungan sekolah.
Ketua Kopri PMII Mojokerto, Hajar Estina, mengungkapkan bahwa berdasarkan data, kasus kekerasan dan pelecehan seksual di Kota Mojokerto menunjukkan tren penurunan. Namun, ia menegaskan bahwa penurunan angka tersebut tidak berarti kasus telah hilang sepenuhnya.
“Ketika melihat angkanya menurun, bukan berarti kita berhenti. Justru kita harus terus mengawal agar angka tersebut semakin menurun. Oleh karena itu, kami bekerja sama dengan dinas terkait dan SMP di Kota Mojokerto untuk melakukan sosialisasi ini. Harapannya, selain menekan angka kasus, juga mendorong keberanian korban untuk melapor,” ujar Hajar, Selasa (11/2/2025).
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa sosialisasi ini merupakan yang pertama dalam rangkaian program pencegahan kekerasan seksual di sekolah-sekolah Kota Mojokerto. Di bulan Februari, Kopri PMII Mojokerto akan menggelar dua kegiatan serupa, dan satu lagi dijadwalkan pada bulan Maret.
“Kami memilih SMP sebagai target utama karena siswa di jenjang ini sedang mengalami masa pubertas. Mereka perlu dikenalkan dengan berbagai bentuk kekerasan dan pelecehan seksual agar dapat lebih waspada serta mengetahui langkah yang harus diambil jika mengalaminya,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala SMP Islam Brawijaya Kota Mojokerto, Khoirul Huda, menyambut baik kegiatan ini. Menurutnya, sosialisasi ini memberikan pemahaman yang kuat kepada siswa mengenai cara menghadapi serta melaporkan tindakan kekerasan yang terjadi di lingkungan sekolah.
“Kegiatan ini sangat luar biasa karena memberikan pemahaman kepada siswa tentang cara menghadapi dan melaporkan tindakan kekerasan,” katanya.
Ia juga menekankan bahwa sekolah telah membentuk Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan untuk mendukung siswa yang mengalami kekerasan.
“Anak-anak tidak perlu takut atau malu untuk melapor, karena tim akan menindaklanjuti setiap laporan yang masuk,” pungkasnya.
Dengan adanya sosialisasi ini, diharapkan kesadaran siswa terhadap bahaya kekerasan dan pelecehan seksual semakin meningkat, sehingga lingkungan sekolah menjadi lebih aman dan nyaman bagi mereka. (Inggrid*)
