
Yogyakarta, Kabarterdepan.com – Keluarga almarhum Malven Yusuf Adh Dhuqa, siswa SMPN 7 Kota Mojokerto yang menjadi korban laka laut, mendatangi Pantai Drini, Yogyakarta, Selasa (4/2/2025) pagi. Mereka ingin mengenang sekaligus mencari kejelasan terkait insiden yang menimpa anak mereka.
Dalam kunjungan tersebut, salah satu juragan kapal di kawasan wisata Pantai Drini, Precil, memberikan kesaksiannya di hadapan keluarga korban. Ia mengungkapkan bahwa sebelum kejadian, sekelompok siswa terlihat bermain di pantai tanpa mengikuti kegiatan yang telah direncanakan.
“Bocah segerombolan itu tidak ikut makan, jadi mereka lari ke pantai,” ungkap Precil saat ditemui di lokasi.
Ia juga mengungkapkan saat kejadian para guru tak bisa melakukan apa-apa karena tidak ada persiapan sebelumnya.
“Jadi pas gurunya kesini (tempat kejadian), ya tidak ada persiapan apa-apa buat nolongin, jadi yang nolongin nelayan itu. Pagi itu gurunya sudah tahu (kalau tenggelam),” tambahnya.
Menurutnya, faktor kebetulan juga turut memengaruhi insiden ini, mengingat hari kejadian bertepatan dengan Selasa Kliwon, di mana nelayan setempat tidak melaut.
“Kan hari itu Selasa Kliwon, nelayan itu libur Selasa Kliwon sama Jumat Kliwon. Misal nelayan gak libur, kemungkinan tertangkap,” jelasnya.
Sementara itu, seorang nelayan lain juga memberikan kesaksian serupa. Ia menegaskan bahwa para siswa korban laka laut tidak mengikuti rencana awal rombongan.
“Rencana di sini (Pantai Drini) itu kan mandi dan makan pagi, tapi rombongan anak ini gak ikut mandi, gak ikut makan, tanpa izin,” ucapnya.
Namun, ia memastikan bahwa kondisi ombak saat itu relatif tenang.
“Ombak waktu itu kecil, gak ada ombak sebesar ini,” imbuhnya.
Menurut informasi dari nelayan setempat, para korban ditemukan sekitar pukul 10 pagi setelah sejumlah nelayan membantu melakukan penyelaman untuk mengevakuasi mereka.
Sebagai bentuk penghormatan terakhir, keluarga almarhum Malven Yusuf Adh Dhuqa menaburkan bunga di pantai, mengenang sosok sang anak yang pergi lebih dulu. Suasana haru menyelimuti prosesi ini, dengan doa dan tangis mengiringi kepergian korban. (Riris*)
