
Yogyakarta, kabarterdepan.com Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengalami inflasi tahun kalender month to month (mtm) yang cukup dalam hingga -0,35 persen pada Januari 2025. Adapun secara year on year (yoy) terjadi inflasi sebesar sebesar 0,95 persen.
BPS DIY
Kepala Badan Pusat Statistik Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Herum Fajarwati menyampaikan jika deflasi tersebut diakibatkan oleh sejumlah kelompok pengeluaran seperti perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga sebesar -6,73 persen meyumbang inflasi -1,15 persen.
Herum menyampaikan jika faktor utama yang mendorong terjadinya deflasi paling tinggi adalah diskon besar-besaran yang diberikan oleh pemerintah sebesar 50 persen 2200 Volt Ampere (VA). Ia menyebut jika penggunaan listrik di DIY cukup besar, sehingga hal tersebut pengaruh kepada deflasi sebesar -0,35 persen.
“Untuk komoditas yang dominan terjadinya deflasi pada Januari 2025 pendorong utamanya adalah tarif listrik, dimana pemerintah memberikan diskon 50 persen dari bulan Januari hingga Februari sehingga menyebabkan deflasi -1,15 persen,” kata Herum saat membacakan rilis statistik di Kantor BPS DIY, Tamantirto, Kasuhan, Bantul, Senin (3/2/2025).
“Kemudian tarif kereta api memberikan deflasi 0,02, berikutnya persen bawang merah, ketimun, dan angkutan antar kota masing masing deflasi 0,01 persen,” katanya.
Sebaliknya komoditas penghambat deflasi cabai merah dengan andil inflasi 0,13 pesan cabe rawit 09,12 persen wortel memberikan andil inflasi saa cabai hijau 0,05 persona kontrak rumah 0,04 persen. Ia menyampaikan jika beberapa kelompok pengeluaran lainnya mengalami inflasi, namun belum mampu mengimbangi terjadinya deflasi yang terjadi.
Pada bulan Januari, Inflasi tertinggi diakibatkan oleh kelompok makanan dan minuman tembakau sebesar 2,24 persen dengan andil 0,62 persen. Kemudian diikuti oleh kelompok transportasi sebesar 0,031 persen dan perawatan pribadi sebesar 0,68 persen.
Untuk perkembangan inflasi secara year on year (yoy) terjadi sebesar 0,95 persen. Angka ini merupakan terendah dalam 2 tahun terakhir ini pengeluaran dominan memberikan andil deflasi maupun inflasi deflasi pada pengeluaran perumahan listrik air bahan bakar rumah tangga inflasi memberikan andil deflasi 1,06 persen
Informasi komunikasi jasa keuangan yoy memberikan andil deflasi 0,02 persen untuk kelompok pengeluaran kandil inflasi tertinggi adalah kelompok makanan minuman dan tembakau 0,90 persen, kedua perawatan pribadi jasa lainya dengan andil 0,53 persen.
Secara yoy emas perhiasan merupakan pendorong inflasi terbesar DIY 0,37 persen kemudian kopi bubuk 0,18; bakar rumah tangga 0,08 persen; minyak goreng 0,07 persen; cabe rawit 0,06 persen.
“Sebaliknya Sebagai dominan yang berstatus penghambat adalah tarif listrik andil deflasi 1,26 persen, cabe merah, beras andil inflasi 0,05 persen, angkutan udara dan bensin deflasi 0,04 persen,” jelasnya. (Hadid Husaini)
