
Sleman, kabarterdepan.com- Terdapat cerita dalam mengembalikan jati diri kebudayaan bukan hal yang mudah dirasakan oleh masyarakat di tengah modernisasi. Tidak terkecuali Kepala Dukuh Cupuwatu II, Purwomartani, Kalasan Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta Bernama Kuncoro Eko Wibowo.
Dirinya memiliki peran penting dalam menumbuhkan Kembali tradisi Merti yang sering dianggap masyarakat sebagai simbol rasa syukur atas berkah yang diberikan tuhan yang maha esa. Terlebih di dusun tersebut, juga ada sumber mata air yang sudah sejak lama dijaga di sebuah bak besar.
Sejak menjabat sebagai dukuh pada tahun 2019 di Kawasan yang kini berdekatan dengan pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) Jalan Tol Jogja-Solo tersebut mencoba untuk memunculkan Kembali tradisi Merti yang sudah lama hilang karena tergerus perubahan zaman.
Hal tersebut dimulai setelah pandemi Covid-19 pada tahun 2021. Menurutnya, kegiatan yang ia memunculkan berasal dari kegabutan ya ditengah berbagai pembatasan aktivitas. “Akhirnya kami mencoba untuk memunculkan Merti Cupu Sumber Kahuripan,” katanya. saat ditemui wartawan kabarterdepan.com pada Sabtu (1/2/2025).
“Itu sebenarnya hanya akal-akalan saya dan teman teman dulu biar tidak gabut. Karena kami gak ada kegiatan dan supaya pas tahun baru tidak pergi-pergi,” ujarnya menyampaikan jika selama ini peradaban santun yang dulu pernah di uri-uri sempat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat sekitar. Namun hal tersebut perlahan kian luntur.
“Apa yang kita rintis ini karena miris dengan adab anak muda yang lebih ke barat-baratan, dan meninggalkan budaya sendiri, budaya ibu. Oleh karena itu berbagai kegiatan kami gencarkan Kembali,”katanya.
“Sebelumnya (Merti) di sini nol, dulu pernah ada beberapa kegiatan seperti karawitan, namun sudah mati karena sesepuh yang ada di sini sudah pada meninggal,” ujarnya.
Problemnya, pada saat itu dirinya dan beberapa dan beberapa warga yang concern untuk mengembalikan tradisi leluhur, belum memiliki pijakan kuat terkait unsur apa yang ingin diangkat di masyarakat.
Mengingat di dusun yang menjadi peradaban tertua di Kalasan juga terdapat sumber mata air sering disebut Ngebak selama ini menjadi sumber penghidupan pihaknya mengusulkan hal tersebut sebagai simbol baru.
“Akhirnya kepikiran Ngebak, peninggalan Londo (Belanda) dari yang airnya mengalir dari Cupuwati 2 ke Cupuwatu 1 sampai ke Kaliajir, ya sudah itu yang di Merteni. Karena selama ini airnya melimpah dan tidak pernah kering,” katanya.
Kegiatan yang ia dan masyarakat lain prakarsai tersebut dinamai dengan Merti Cupu Sumber Kahuripan, dengan filosofi melimpahnya sumber air. Kegiatan tersebut diisi dengan kirab budaya dimana para sesepuh membagikan 7 tumpeng sesuai dengan sejumlah wewengkon, Sementara hasil bumi diwujudkan dalam bentuk tumpeng hasil dari panen raya yang melimpah.
Menemukan Wajah Aslinya
Di tahun keempat berjalannya Merti tersebut, dirinya mensosialisasikannya kepada masyarakat terkait kegiatan tersebut agar bisa dikenal masyarakat lebih luas. Dirinya juga bertemu dengan para sesepuh dusun yang mempertanyakan landasan kegiatan yang sudah ia jalankan selama ini.
“Warga (sesepuh) asli sini mempertanyakan, Merti Cupu Sumber Kahuripan itu dasarnya apa, dan ternyata dulu sudah ada Merti Dusun yang dilakukan dengan tradisi Wiwitan hingga nanggap wayang jika masyarakat punya rejeki lebih,” ujarnya.
“Berarti esensinya kan sama sebagai bentuk rasa syukur dan meminta selamat kepada Allah.” Katanya. Momen tersebut membuka harapan baru agar Merti yang sesuai dengan tradisi sebelumnya bisa disesuaikan dan dijalankan Kembali di dusun.
Setelah dilakukan rembugan, dirinya dan para sesepuh bersepakat untuk kembali memulai Merti dengan wajah aslinya dengan Merti Dusun pada tahun 2025 seperti sedia kala jauh sebelum Kuncoro dan kawan-kawan kembali menggairahkan tradisi sekitar dengan mengangkat isu lingkungan.
Kepala Dukuh Angkat Isu Lingkungan
Kepala Dukuh Kuncoro bersama dengan masyarakat tengah membangun fasilitas dan lokasi eduwisata di yang didalamnya nanti akan dikaitkan pada isu-isu lingkungan seperti pengelolaan air,pengolahan sampah, hingga penanaman pohon.
Kepala Dukuh juga tengah membangun sebuah area publik yang masih satu lokasi dengan Ngebak yang menjadi sumber air bagi beberapa Padukuhan di sekitarnya dengan memanfaatkan lahan yang sudah tidak produktif.
Masyarakat tengah mengembangkan tempat pengolahan sampah plastic yang mampu menghasilkan Kembali minyak bumi yang bisa digunakan untuk bahan bakar kendaraan menggunakan mesin pirolisis yang dikelola oleh bank sampah Go-Green Cupuwatu II.
Mesin pirolisis tersebut disebutnya merupakan hibah dari Yayasan Get Plastic. “Kedepanya Cupuwatu II memang sudah disampaikan kita kan selain budaya kita masih berkaitan berkaitan dengan budaya yang berkaitan dengan isu lingkungan karena pertama kami punya modal mesin pirolisis pengolahan plastik,” katanya.
“Isunya tetap lingkungan sampah plastic dari minyak bumi kembali ke minyak bumi memutus rantai sampah plastik tidak menjadi bentuk baru baik RDF atau konblok, tapi kita putus tes jadi minyak bumi lagi jadi dipedot tidak hanya merubah bentuk tapi langsung diputus plastic hilang,” katanya.
Harapanya dengan adanya pengolahan sampah plastic tersebut bisa membuat lingkungan lebih murni dan bersih. Sehingga selain nguri-uri budaya di, pihaknya juga berupaya untuk terus berkomitmen menjaga lingkungan. (Hadid Husaini)
