
Mojokerto, Kabarterdepan.com – Isak tangis keluarga pecah saat mereka menerima kabar duka atas meninggalnya Almarhum Malvein Yusuf Adh Dhuqa, siswa SMPN 7 Kota Mojokerto, dalam insiden laka laut saat mengikuti kegiatan outing class di Pantai Drini, Gunungkidul, Yogyakarta pada Selasa (28/1/2025).
Duka semakin mendalam ketika keluarga menyatakan bahwa mereka tidak menganggap ini sebagai musibah semata, melainkan sebagai bentuk kelalaian pihak sekolah dalam menjaga keselamatan peserta didik.
Dalam Kabar Terdepan Podcast, Jumat (31/1/2025), ibu almarhum Malvein, Istiqomah, dan kakaknya, Salsa, dengan tegas mempertanyakan tanggung jawab guru yang seharusnya mengawasi setiap siswa dengan ketat. Ia menyebut bahwa para guru mengetahui ketika para siswa mulai bergerak di luar jangkauan, namun tidak segera mengambil tindakan pencegahan.
“Gurunya paham ketika anak didiknya lari dari jangkauannya, mereka tahu. Tapi kenapa dibiarkan?” ujar Salsa.
Keluarga juga menyesalkan kurangnya pengawasan sejak awal. Menurut informasi yang diterima, setelah turun dari bus, para siswa diarahkan untuk sholat dan makan terlebih dahulu sebelum menuju pantai. Namun, Malvein justru langsung ke pantai tanpa mengikuti arahan tersebut.
“Katanya anak saya tidak sholat, tidak makan, langsung sampai ke pantai. Tapi sebenarnya yang benar itu kan harus dicek dulu, diabsen dulu, siapa yang sudah keluar, siapa yang masih di dalam. Harusnya begitu,” tambah Istiqomah
Lebih menyedihkan lagi, ketika keluarga menanyakan kronologi kejadian kepada pihak sekolah saat jenazah tiba di rumah, tidak ada satu pun jawaban yang diberikan. Baru lima hari setelah kejadian, keluarga akhirnya mendapatkan kejelasan mengenai peristiwa tragis tersebut.
“Ketika jenazah datang jam 11 malam, guru-guru datang. Kami tanya baik-baik terkait kronologi, tapi tidak ada jawaban sama sekali. Baru lima hari ini kami tahu bagaimana kejadiannya,” ungkap Salsa dalam podcast Kabar Terdepan.
Kehilangan Malvein menjadi pukulan berat bagi keluarga. Sang kakak bahkan mengungkapkan bahwa dirinya tidak rela sang adik menjadi korban karena Malvein adalah harapan besar bagi keluarga mereka.
Sebagai bentuk keadilan, keluarga korban meminta perhatian dan tindakan dari pemerintah. Mereka menegaskan bahwa tujuan mengizinkan Malvein mengikuti outing class adalah untuk menambah wawasan dan pengalaman, bukan untuk kehilangan nyawa.
“Kami ingin keadilan, kami mengirimkan anak kami untuk bersenang-senang, bukan untuk setor nyawa,” tegas keluarga korban.
Hingga saat ini, keluarga masih menunggu langkah konkret dari pihak berwenang untuk mengusut tuntas kasus ini. Mereka berharap kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang, agar tidak ada lagi keluarga yang kehilangan anaknya akibat kelalaian dalam pengawasan. (Inggrid*)
