Keluarga Siswa Korban Laka Laut Yogyakarta Kecewa Dipaksa Sekolah Tandatangani Surat untuk Santunan

Avatar of Redaksi
20250131 054357
Duka masih menyelimuti keluarga almarhum Malven (Riris / Kabarterdepan.com)

Kota Mojokerto, Kabarterdepan.com – Insiden laka laut di Pantai Drini Yogyakarta yang menimpa siswa SMPN 7 Kota Mojokerto menjadi pukulan mendalam bagi keluarga korban, termasuk keluarga Almarhum Malven Yusuf Adh Dhuqa.

Kejadian ini memicu kekecewaan dan kemarahan keluarga terhadap pihak sekolah yang dinilai kurang memiliki empati dalam menangani kasus tersebut.

Keluarga Almarhum Malven mengungkapkan, mereka merasa dipaksa oleh pihak sekolah untuk segera menandatangani surat yang berisi pernyataan mengikhlaskan kejadian tersebut sebagai kecelakaan laut.

Dalam surat itu, pihak keluarga juga akan menerima uang santunan. Namun, keluarga menolak menandatangani karena tidak mendapatkan penjelasan yang jelas mengenai kronologi sebenarnya.

Ayah Almarhum Malven, Yosef, terlihat marah dalam video yang beredar di media sosial dengan hal tersebut.

VideoCapture 20250131 060329
Tangkapan layar kemarahan keluarga almarhum Malven saat dimintai pihak sekolah untuk tanda tangan

Sementara itu, kakak almarhum, Salsa, mengungkapkan ketidakterimaannya atas tindakan pihak sekolah.

“Pemaksaan, baru dua hari loh sudah disuruh tanda tangan, katanya untuk uang santunan. Di suratnya ada tulisannya harus segera ditandatangani,” kata Salsa saat ditemui di rumah duka di Balongrawe Gang Al-Azhar, Kedundung, Kota Mojokerto, Kamis (30/1/2025).

Ia juga mempertanyakan besarnya nominal santunan tersebut jika dibandingkan dengan kesedihan yang dirasakan keluarganya saat ini.

“Lah misalnya kalau untuk uang santunan, berapa sih saya tanya?” ungkapnya dengan geram.

Ibu almarhum, Istiqomah, juga mempertanyakan tanggung jawab guru-guru SMPN 7 Kota Mojokerto yang mendampingi saat kejadian.

“Empatinya itu loh di mana. Datang suruh tanda tangan tanpa memberi kejelasan kronologi sampai sekarang, gurunya saya tanya diam saja,” ujarnya dengan nada kecewa.

Istiqomah juga mengaku terluka karena mengetahui kabar meninggalnya Malven bukan dari pihak sekolah, melainkan dari media sosial.

“Kemarin waktu anak saya meninggal, saya taunya dari sosial media bukan dari pihak sekolah. Anak saya udah nggak ada itu pagi jam 9, saya tahunya sore itu bukan dari gurunya. Harusnya gurunya memberitahu lewat WA atau apa, saya malah tahunya dari orang lain,” jelasnya.

Ia mempertanyakan pertanggungjawaban dari pihak sekolah atas kejadian tersebut.

“Yang saya tanyakan, di mana tanggung jawab guru-gurunya? Siapa yang bertanggung jawab? Kalau memang susah bawa anak-anak nakal, ya nggak usah outing class. Kalau anaknya yang bandel, kenapa nggak dikasih himbauan yang tegas? Namanya tanggung jawab menjaga anak orang,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Istiqomah menuturkan bahwa anaknya sempat terombang-ambing di laut selama empat jam tanpa pertolongan yang layak.

“Anak saya dibiarkan terombang-ambing di laut 4 jam. Sudah tahu muridnya terombang-ambing, gurunya diam saja nontonin. Saya sebagai ibunya, bahkan papanya, kalau ada di sana sudah langsung lari masuk ke laut nolongin,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

Keluarga Sebut Almarhum Malven Anak Pintar dan Berambisi Besar

Pakde dan Bude Almarhum Malven mengenang sosok Almarhum Malven sebagai anak yang pintar, tampan, sederhana, dan memiliki ambisi besar. Budenya bahkan menganggap Almarhum Malven seperti anak sendiri karena sudah merawatnya sejak kecil.

“Malven itu suka main basket. Sepatu basket kan mahal, sampai 600 ribu. Itu Malven mau dipinjami sama kakak kelasnya. Kadang anaknya pinjam uang ke saya. Saya guyoni (bercanda), ‘Wong belum kerja kok mau pinjam uang.’ Ya selalu saya kasih,” ungkap Pakde Almarhum Malven.

Budenya menyesalkan keputusan karena tidak menuruti keinginan Almarhum Malven untuk mondok.

“Dulu sejak MI anaknya mau mondok, tapi ya saya bilang kalau mondok biaya besar nggak cukup Rp10 juta. Ternyata ya sama saja dengan biaya sekolah di SMPN 7. Tahu begitu saya masukkan pondok saja, tidak sampai ada kejadian seperti ini,” ucap Bude Almarhum Malven.

Pakde dan Bude Almarhum Malven juga menyayangkan kurangnya perhatian dari pihak sekolah pasca kejadian.

“Karangan bunga pun nggak ada dari sekolah memberi,” pungkasnya.

Pj Wali Kota Mojokerto Beri Klarifikasi

Menanggapi polemik ini, Pj Wali Kota Mojokerto, Moh Ali Kuncoro, memberikan klarifikasi dalam temu media di Balai Kota Mojokerto.

“Surat itu sebenarnya untuk kelengkapan administrasi. Saat kejadian, laporan harus diberikan dan dalam setiap proses pemeriksaan, dokumen harus lengkap,” paparnya.

Namun, pernyataan ini belum sepenuhnya meredakan kekecewaan keluarga Malven yang masih menunggu pertanggungjawaban lebih lanjut dari pihak sekolah. (Riris*)

Responsive Images

You cannot copy content of this page