
Mojokerto, Kabarterdepan.com – Ketua TP PKK Kabupaten Mojokerto Shofiya Hana Al Barra menghadiri Workshop Literasi Pertanian Hidroponik (Non APBD) yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Mojokerto kolaborasi dengan Yayasan Bima Sakti Peduli Negeri Dusun Claket, Kec. Pacet, Selasa (21 Januari 2025).
Pertama dalam sambutannya Shofiya Hana Al Barra menyampaikan saat ini telah dilakukan transformasi perpustakaan literasi dulu dan sekarang beda jauh dari segi definisi dan tujuan, memang banyak sekali perkembangan yang harus dikejar.
Kalau dulu literasi dikenal hanya tentang kemampuan mengenal angka huruf, olah kata, pendapat, dan lainnya pada Tahun 1940-an.
“Pada era tersebut hanya 2 persen yang bisa membaca, namun sekarang mendapat dukungan dari pemerintah pusat yang luar biasa penduduk bisa membaca mencapai 96 persen, dan adanya dukungan anggaran APBN 20 persen kini eranya semakin maju menyesuaikan perkembangan literasi dan bidang lainnya,” jelas Shofiya Hana Al Barra.
Terdapat 5 tingkatan dalam literasi masa sekarang yang pertama kemampuan baca, tulis, hitung, dan pembentukan karakter. Kedua, memiliki akses bahan bacaan terjangkau, akurat, terkini, terlengkap, terpercaya.
Selanjutnya, memahami hal-hal yang tersirat dan tersurat. Keempat, mampu berinovasi dalam kreativitas.
Hal ini sebagai antisipasi terhadap perkembangan teknologi informasi. Kelima memiliki ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dapat diimplementasikan untuk menciptakan barang atau jasa yang dapat digunakan dalam kompetensi global.
Dalam rangka memeriahkan acara Kelompok KKN Mahasiswa UNAIR Surabaya juga turut serta pada serangkaian acara.
Dilanjutkan sambutan dan ucapan selamat datang oleh Ketua Yayasan Bima Sakti Peduli Negeri, M. Aditya Dwi Kurniawan memaparkan bahwa pada sektor pertanian di Claket mendapatkan tawaran untuk ekspor ke Hongkong pada komoditas Ubi Ungu, namun masih tahap penentuan petani mana yang bisa mengisi permintaan pasar tersebut. Sehingga dengan adanya workshop ini sebagai gerakan bersama.
“Harapan dari sini dapat diimplementasikan langsung percontohan tersebut,” ujar M. Aditya Dwi Kurniawan.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Mojokerto Noerhono, S.Sos., MM mengungkapkan seluruh jumlah peserta mencapai 100-200 ada dari luar daerah juga seperti Sidoarjo, Jombang, dan Pasuruan. Sebelum kegiatan workshop ini juga terlaksana program Eco Enzim, Eco Print, dan masih banyak lagi.
Di tengah pesatnya urbanisasi dan terbatasnya lahan pertanian, literasi hidroponik semakin menjadi salah satu topik penting yang perlu diperkenalkan kepada masyarakat.
Literasi hidroponik merujuk pada pemahaman dan pengetahuan mengenai metode pertanian hidroponik, yaitu teknik bercocok tanam yang tidak menggunakan tanah, melainkan menggunakan media air yang kaya akan nutrisi untuk mendukung pertumbuhan tanaman.
“Karena kalau zaman sekarang dikenalkan tentang hidroponik kepada masyarakat langsung mengira akan membutuhkan biaya, peralatan yang mahal. Maka dari itu dengan adanya literasi hidroponik dapat mengenal prosesnya,” ujar Zuhrotun Nisa S.E selaku pemateri workshop.
Secara umum, hidroponik merupakan sistem pertanian yang memungkinkan tanaman untuk tumbuh dengan menggunakan air yang diperkaya oleh larutan nutrisi, tanpa bergantung pada tanah.
Metode ini memberikan banyak keuntungan, terutama bagi mereka yang tinggal di daerah dengan lahan terbatas, seperti di perkotaan. Dengan cara ini, tanaman dapat tumbuh subur meskipun dalam ruang yang terbatas, seperti halaman rumah, balkon, atau bahkan dalam ruangan.

Adapun alat dan bahan yang dibutuhkan untuk hidroponik meliputi :
- Bibit Tanaman : Bibit tanaman yang berkualitas akan membantu hidroponik menjadi masksimal.
- Pupuk : Pupuk AB mix untuk menunjang perkembangan tanaman hidroponik.
- Air : Air yang digunakan untuk menunjang perkembangan tanaman hidroponik.
- Media Tanam : Dapat berupa kapas, arang sekam, rockwool, kericil, hydroton, atau sabut kelapa.
- Lampu : Dibutuhkan untuk menunjang perkembangan tanaman hidroponik.
- Sistem Filtrasi : Untuk air dan udara menunjang perkembangan tanaman hidroponik.
- Alat Kontrol Iklim.
- Alat Pengukur Pekat Air : TDS meter digunakan untuk mengetahui kepekatan nutrisi dalam hidroponik.
Tanaman hidroponik tentu memiliki Ph, EC, dan PPM yang berbeda. Misalnya tanaman Buncis mempunyai Ph (6.09, Brokoli (6.0-6.5), Wortel (6.3), Ketimun (5.8-6.0), Packchoy (7.0), Bayam (5.5-6.6), dan Cabe (6.0-6.5).

“Ikut meramaikan acara worskop literasi hidroponik pertama datang menurut saya merupakan langkah pemerintahan ini bagus sekali, untuk mengenalkan hidroponik kepada masyarakat yang ada di Dusun Claket,” terang Rangga Mahasiswa KKN.
Literasi hidroponik mencakup berbagai aspek, mulai dari pemahaman dasar mengenai prinsip-prinsip hidroponik, jenis-jenis sistem hidroponik yang umum digunakan, hingga bagaimana cara merawat dan mengelola tanaman hidroponik secara efisien.
Melalui literasi hidroponik, masyarakat dapat mempelajari cara-cara menanam berbagai jenis tanaman seperti sayuran, buah, atau tanaman hias dengan metode yang lebih ramah lingkungan dan menghemat sumber daya seperti air dan lahan.
Selain itu, literasi hidroponik juga memberikan wawasan mengenai manfaat lainnya, seperti pengurangan ketergantungan pada penggunaan pestisida kimia, penghematan konsumsi air, serta pengurangan jejak karbon yang dihasilkan dari distribusi hasil pertanian yang berasal dari jarak jauh.
Oleh karena itu, dengan meningkatkan literasi hidroponik, masyarakat tidak hanya memahami aspek teknis pertanian, tetapi juga dapat melihatnya sebagai solusi untuk menghadapi tantangan ketahanan pangan global.
Diharapkan dengan meningkatnya literasi hidroponik, masyarakat dapat mengadopsi sistem pertanian ini baik untuk konsumsi pribadi maupun sebagai peluang usaha baru yang berbasis pada pertanian urban.
Dengan demikian, literasi hidroponik tidak hanya memberikan pengetahuan baru dalam dunia pertanian, tetapi juga membuka peluang bagi masyarakat untuk berperan aktif dalam menciptakan sistem pertanian yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan. (Tantri*)
