
Mojokerto, Kabarterdepan.com – Desa Ketapanrame, Kecamatan Trawas, Mojokerto, menjadi tuan rumah Kunjungan Kerja Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar, dan Wakil Menteri BUMN, Tiko, ke Mojokerto.
Kunker dalam rangka pemberdayaan ekonomi melalui Desa Brilian tersebut berlangsung di Wisata Sumber Gempong, Kecamatan Trawas, Mojokerto, Kamis (16/1/2025).
Dalam sambutannya, Direktur Utama BRI Group, Sunarso, menggarisbawahi pentingnya mengubah paradigma pemberdayaan UMKM. Ia menekankan bahwa pemberdayaan tidak hanya tentang memberikan modal, tetapi lebih kepada edukasi, pendampingan, dan membangun semangat kewirausahaan.
“Duit itu penting, tetapi tidak akan berarti apa-apa jika orang yang menerima tidak dididik, tidak punya semangat belajar, dan tidak disiplin. Modal tanpa edukasi hanya akan hilang tanpa hasil,” papar Sunarso.
Sunarso berbagi pengalamannya sejak memimpin BRI dan PNM, di mana ia berinteraksi langsung dengan pelaku UMKM. Ia mengisahkan bagaimana PNM berhasil memberdayakan nasabah kecil dengan nilai kredit hanya Rp3 juta, tetapi berhasil menciptakan komitmen yang tinggi melalui pendampingan dan edukasi.
“Saya sering berpikir, kalau nasabah PNM dengan pinjaman Rp3 juta saja bisa berkomitmen untuk membayar tepat waktu, mengapa prinsip ini tidak kita terapkan pada nasabah besar? Bahkan konglomerat pun seharusnya diberi edukasi untuk menjaga tanggung jawab terhadap pinjaman,” katanya sambil tersenyum.
Pengalaman tersebut menginspirasi Sunarso untuk memperluas pendekatan edukasi dalam pemberdayaan UMKM. Ia juga menyebut bahwa pendekatan ini yang mengantarkannya meraih penghargaan sebagai The Best SME Banker Asia Pasifik sebanyak dua kali.
“Pemberdayaan UMKM bukan soal advokasi, tetapi edukasi. Advokasi hanya menempatkan UMKM di bawah, sementara edukasi membuat mereka sejajar dengan sektor lainnya,” lanjut Sunarso.

Sunarso mengurai empat pilar pemberdayaan UMKM yang terus menjadi fokus BRI Group:
1. Spirit Entrepreneurship
Sunarso menegaskan bahwa kewirausahaan adalah soal mental tangguh dan keberanian menghadapi risiko. Ia meminta masyarakat diajarkan untuk tangguh, mandiri, dan tidak bergantung pada bantuan semata.
“Jangan ajari masyarakat menjadi pengemis. Ajari mereka untuk berdiri di atas kaki sendiri dengan semangat yang kokoh,” tegasnya.
2. Disiplin Administrasi dan Manajerial
Tata kelola usaha yang baik menjadi kunci penting dalam menarik perhatian perbankan. Sunarso mencontohkan pentingnya penggunaan teknologi sederhana seperti general ledger untuk mencatat keuangan dengan rapi.
“UMKM yang rapi dan disiplin akan jauh lebih menarik bagi bank, dibandingkan yang hanya bergantung pada pengalaman tradisional,” tambahnya.
3. Aksesibilitas
Akses terhadap teknologi, pasar, informasi, dan pendanaan menjadi faktor berikutnya. Sunarso menyebutkan bahwa teknologi dan informasi, terutama melalui media sosial, bisa menjadi alat untuk membuka pasar baru.
“Di era digital, UMKM harus diajarkan untuk memanfaatkan teknologi agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas,” katanya.
4. Inovasi dan Nilai Tambah
Sunarso menekankan pentingnya menciptakan nilai tambah dalam setiap potensi desa. Ia mencontohkan bagaimana Desa Ketapanrame telah memanfaatkan agrowisata sebagai sumber pendapatan tambahan.
“Jangan hanya menjual padi atau beras. Jadikan sawah sebagai destinasi wisata yang menarik orang untuk datang dan membayar. Bahkan sekadar melihat padi hijau dan naik sepeda di atas kawat bisa menjadi daya tarik,” ujarnya.
Sunarso mengapresiasi Desa Ketapanrame yang telah berhasil mengelola potensi lokal dengan baik. Ia menyebutkan bahwa BRI melalui program Desa Brilian telah bekerja keras untuk mengidentifikasi dan mengembangkan potensi desa di seluruh Indonesia.
“Kami tidak hanya memberi modal, tetapi juga terjun langsung untuk mendampingi masyarakat desa. Dari agroturisme, kerajinan tangan, hingga industri kecil, semua didukung untuk menciptakan keberlanjutan,” ungkapnya.
Dalam program Desa Brilian, petugas BRI terlibat langsung dalam pemetaan potensi desa dan memberikan pelatihan sesuai kebutuhan. Desa Ketapanrame misalnya, memiliki potensi besar dalam bidang agrowisata yang kini terus dikembangkan.
“Pemberdayaan desa bukan hanya soal meningkatkan pendapatan, tetapi juga membangun kebanggaan masyarakat terhadap potensi lokal mereka,” tambahnya.
Di akhir sambutannya, Sunarso mengingatkan bahwa kunci keberhasilan pemberdayaan terletak pada keberlanjutan edukasi dan pendampingan.
“Kemandirian tidak datang dengan sendirinya. Dibutuhkan semangat, disiplin, dan inovasi untuk mencapainya. Kami di BRI berkomitmen untuk terus mendampingi masyarakat dalam perjalanan ini,” pungkasnya.
Acara ditutup dengan antusiasme masyarakat Desa Ketapanrame yang merasa optimis terhadap masa depan desa mereka. Kehadiran BRI Group dianggap sebagai wujud nyata dari komitmen pemberdayaan desa yang berkelanjutan. (Firda*)
