
Kota Mojokerto, Kabarterdepan.com – Para pedagang kaki lima atau pedagang keliling dengan gerobak serta payung di depan Taman Pintar Pulorejo, Kota Mojokerto, resah akibat kenaikan harga eceran tertinggi (HET) LPG 3 kg.
Mereka menjual beragam makanan, seperti sempol, makroni telur, cilok, tahu goreng, jamur goreng, ceker pedas, kebab, dan lainnya.Mereka mulai berjualan dari pukul 06.30 WIB hingga 17.00 WIB sore, yang semuanya memerlukan LPG 3 kg untuk memasak atau menggoreng.
Karsih, salah satu penjual sempol di Taman Pintar Pulorejo, mengungkapkan rasa sedih dan cemas setelah mendengar kabar kenaikan harga LPG 3 kg dari Rp 16.000 menjadi Rp 18.000, mulai tanggal 15 Januari 2025.
“Harga minyak naik, LPG juga naik, sedangkan saya tiap hari butuh 1 tabung gas untuk berjualan” ujarnya dengan raut wajah kecewa saat diwawancarai Kamis (16/1/2025).
“Kalau harga sempol saya naikkan, takutnya nggak ada pembeli, tapi keuntungan saya berjualan sangat kecil” tambahnya.
Pelanggan Karsih kebanyakan adalah ibu-ibu yang menjemput anak-anak mereka di sekolah sekitar. Lokasi dagangannya memang strategis, dekat dengan beberapa sekolah, seperti SMPN 6 Pulorejo, TK Pembina serta SDN 1 dan 2 Pulorejo.
Sempolnya dijual dengan harga Rp 1.000 per tusuk, dengan pendapatan harian yang tidak menentu, berkisar antara Rp 200 ribu hingga Rp 400 ribu.
Karsih merasa terpaksa harus mengubah atau menyesuaikan produk yang ia jual untuk mengurangi beban biaya produksi.
“Kalau LPG naik, mungkin ukuran sempol akan saya kecilkan,” ungkap Karsih dengan nada pasrah.
Akan tetapi, berbeda dengan Topa, salah satu penjual kebab di Taman Pintar Pulorejo, memilih untuk tidak mengurangi bahan dagangannya.
“Tidak ada bahan penjualan yang dikurangi, itung-itung sedekahlah untuk pelanggan,” ujar Topa.
Sehingga, dari situ para pedagang di area Taman Pintar Pulorejo berharap pemerintah dapat menurunkan harga LPG 3 Kg atau memberikan subsidi tambahan untuk membantu meringankan beban ekonomi masyarakat kecil seperti mereka. (Steven)
