
Sragen, kabarterdepan.com – Antisipasi sebaran Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) terus dilakukan dengan penyemprotan disinfektan di sekitar lingkungan kandang komunal hingga pasar hewan.
Pencegahan sebaran PMK juga dilakukan Pemerintah desa di perbatasan, salah satunya Desa Galeh Kecamatan Tangen yang merupakan daerah perbatasan yang terletak di sebelah utara Kabupaten Sragen yang menghubungkan Kabupaten Grobogan.
Triyono Kepala Desa (kades) Galeh mengatakan, pencagahan PMK dengan penyemprontan disinfektan sudah dilakukan secara serentak di setiap kandang komunal warga setempat.
“Setelah menerima 30 liter disinfektan dari Pemkab, kita segera melakukan penyemprotan lingkungan kandang milik warga didampingi petugas kesehatan hewan bersama aparat keamanan setempat,” kata Triyono Sabtu (11/1/2024).
Selain penyemprotan disinfektan selama penyebaran PMK, Triyono juga gencar memanfaatkan media sosial untuk update perkembangan sebaran PMK setiap saat, serta melakukan sosialisasi pencengahan lainnya kepada warganya.
“Sosialisasi pencegahan PMK kita lakukan juga lakukan di grup Whatshaap dan Facebook, kita sering juga melakukan koordinasi langsung dengan seluruh ketua RT dan petugas Kesehatan hewan setempat,” ucapnya.
Triyono mengaku, dari laporan warga setidaknya terdapat 10 ekor sapi yang mati (dipotong dan tak tertolong) akibat dari sebaran PMK yang terjadi saat ini. Namun terdapat juga hewan ternak yang sembuh dari PMK.
“Setiap warga desa rata-rata mempunyai hewan ternak sapi maupun kambing. Bagi warga, ternak merupakan tabungan sewaktu-waktu bisa dijual warga untuk kebutuhan secara cepat,” ucapnya.
“Banyak warga mengeluh, semenjak terjadi PMK harga ternak menurun drastis,” imbuhnya.
Disisi lain, menurutnya, Desa Galeh merupakan pintu gerbang sebelah utara Kabupaten Sragen yang menghubungkan Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Blora dimana pasokan hewan ternak sapi sebagian besar berasal dari pasar hewan dua Kabupaten tersebut.
“Untuk saat ini, kita juga menghimbau kepada peternak dan petani desa Galeh untuk sementara tidak mendatangkan atau membeli sapi dari luar daerah sebagai salah satu pencegahan penyebaran PMK saat ini,” tuturnya.
Secara umum lanjut Triyono, selain membuat harga jual ternak sapi dipasar semakin menurun, PMK juga masih membuat was-was sebagian peternak.
Ia berharap, pandemi PMK yang terjadi saat ini segera berlalu, sehingga peternak maupun petani dapat melakukan aktifitas kegiatan memelihara sapi dengan aman dan nyaman
“Semoga PMK cepat berlalu dan harga sapi dipasaran kembali normal,” harapnya.

Sementara, dari data Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Sragen Upaya itu dilakukan DKP3 Sragen, per Jumat (10/1/2025) pukul 13.00 WIB, kasus PMK di Sragen mencapai 1.069 kasus dengan kasus baru sebayak 21 kasus dan kasus yang aktif 794 kasus yang menyebar di 20 Kecamatan.
Angka kematian sapi akibat PMK juga naik dari 113 ekor menjadi 120 ekor yang terdiri atas 55 ekor mati karena sakit dan 65 ekor mati karena disembelih. Sementara sapi yang sembuh dari PMK naik menjadi 155 ekor.
Naiknya angka sebaran kasus PMK membuat seluruh kecamatan di Sragen masih berstatus zona merah PMK, Namun hingga Jumat (10/1/2025) pemerintah Kabupaten Sragen belum melakukan penutupan sementara sejumlah pasar hewan.
Pasar hewan seperti pasar Nglangon, dan Sumberlawang, tetap dibuka meski sepi pembeli. Sementara sebagai langkah antisipasi penyebaran PMK, hanya dilakukan dengan cara skrining terhadap sapi dan angkutan kendaran, dan lingkungan sekitar pasar hewan. (Masrikin).
