
Life Style, Kabarterdepan.com – Generasi Z atau Gen Z, yang lahir dan tumbuh di era teknologi serba instan, sering kali menghadapi tantangan kesehatan yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Gaya hidup mageran, suka rebahan, malas olahraga, makan makanan fast food, dan stres menjadi bagian dari keseharian mereka. Sayangnya, semua ini berkontribusi pada meningkatnya risiko sindrom metabolik di kalangan Gen Z.
Sindrom metabolik adalah kumpulan gejala yang menandakan gangguan metabolisme tubuh, seperti obesitas, gula darah tinggi, tekanan darah tinggi, dan kadar kolesterol yang tidak normal.
Dilansir dari Podcast Kabar Terdepan, Rabu (8/1/2025), dr. Alfian Chandiardy menyampaikan bahwa sindrom ini dapat menjadi “lampu kuning” sebelum berbagai penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung menyerang.
Dengan pola hidup Gen Z yang semakin bergeser ke arah gaya hidup tidak sehat, memahami dan mencegah sindrom metabolik menjadi sangat penting untuk melindungi masa depan kesehatan generasi muda ini. Berikut adalah pembahasan mengenai sindrom metabolik dan bagaimana Gen Z dapat mencegahnya.
Apa itu Sindrom Metabolik?
Sindrom metabolik bukanlah penyakit tunggal melainkan “lampu kuning” yang menandakan risiko berbagai penyakit kronis. Beberapa gejala utamanya meliputi:
– Lingkar perut besar: >90 cm pada pria, >80 cm pada wanita.
– Tekanan darah tinggi: ≥130/85 mmHg.
– Gula darah puasa tinggi: ≥100 mg/dL.
– Trigliserida tinggi: ≥150 mg/dL.
– HDL rendah: <40 mg/dL pada pria, <50 mg/dL pada wanita.
“Sindrom metabolik ini penting karena ini lampu kuning sebelum menuju lampu merah,” ujar dr. Alfian. Jika gejala ini diabaikan, risikonya bisa meningkat menjadi diabetes, stroke, hingga gagal jantung dan ginjal.
Gen Z dan Unhealthy Lifestyle
Gen Z sering disebut sebagai “generasi rebahan” karena kecenderungan mereka menjalani gaya hidup pasif. Kebiasaan ini diperburuk dengan pola makan yang tidak sehat, seperti konsumsi makanan cepat saji, minuman manis, serta kurangnya aktivitas fisik. Dr. Alfian menyebutkan bahwa perubahan pola makan tradisional kaya serat menuju westernized diet adalah salah satu faktor utama pemicu sindrom metabolik.
“Stop menjadi generasi rebahan. Stop menjadi generasi yang santai. Kita harus menjadi generasi yang aktif dan taat untuk hidup sehat,” tegasnya.
Dampak dari Unhealthy Lifestyle
Dr. Alfian menekankan bahwa gaya hidup yang tidak sehat memengaruhi banyak aspek kesehatan:
1. Resistensi insulin: Proses awal menuju diabetes.
2. Obesitas sentral: Lemak menumpuk di sekitar perut, memicu peradangan dan penyakit lainnya.
3. Kesehatan mental: Stres tinggi dan kurang tidur meningkatkan hormon kortisol yang dapat memperburuk tekanan darah dan kondisi metabolik lainnya.
Ia juga menjelaskan bahwa gaya hidup tidak sehat ini diperparah oleh stres akademik, kurang tidur, dan pola makan berlebihan, yang umum ditemukan pada Gen Z.
Mengubah Gaya Hidup, Mencegah Sindrom Metabolik
Langkah pertama mencegah sindrom metabolik adalah dengan menjalani gaya hidup sehat:
1. Makan sehat: Konsumsi makanan tradisional kaya serat, hindari makanan olahan, dan kurangi asupan gula serta garam.
2. Olahraga rutin: Mulai dengan aktivitas sederhana seperti jalan kaki 30 menit sehari, lalu tingkatkan intensitas sesuai kebutuhan.
3. Tidur cukup: Minimal 6-8 jam per malam untuk menjaga keseimbangan hormon.
4. Mengelola stres: Hindari tekanan berlebih dengan teknik relaksasi seperti meditasi.
“Jangan alergi dengan obat, tapi ubah dulu gaya hidup sebelum beralih ke pengobatan,” pesan dr. Alfian.
Gen Z memiliki potensi besar untuk menjadi agen perubahan dalam pola hidup sehat. Menurut dr. Alfian, perubahan kecil seperti mengurangi waktu duduk, beralih ke makanan sehat, dan meningkatkan aktivitas fisik dapat mencegah risiko jangka panjang dari sindrom metabolik.
Sebagai generasi masa depan, Gen Z harus menjauhkan diri dari gaya hidup pasif dan westernized diet. Dengan komitmen untuk hidup sehat, mereka dapat membangun masa depan yang lebih baik, bebas dari ancaman penyakit kronis. (Riris*)
