Jembatan Penghubung Desa di Sragen Putus Belum Tertangani, 60 Kepala Keluarga Terisolir

Avatar of Redaksi
Screenshot 20250106 160438
POTRET : Kondisi jembatan penghubung pertanian di Desa Pare Kecamatan Mondokan hampir 2 bulan belum ditangani. (Foto Istimewa masrikin/kabarterdepan.com)

Sragen, kabarterdepan.com – Kondisi jembatan penghubung Desa Pare dengan Desa Sono Kecamatan Mondokan pasca putus dan hanyut akibat hujan deras disertai angin kencang yang terjadi 23 November 2024 lalu, belum tertangani oleh pemerintah Desa maupun pemerintah kabupaten (Pemkab) Sragen.

Hilangnya jembatan di ruas jalan pertanian itu membuat akses jalan terputus total, Akibatnya sebayak 60 Kepala Keluarga (KK) di Dukuh Sambiroto Desa Pare terisolir, keadaan tersebut menjadi keluhan warga masyarakat setempat.

“Putusnya jembatan membuat warga Biroto harus memutar melewati ruas jalan lain sejauh kurang lebih berjarak 4 kilometer untuk bisa sampai kerumah,” tutur Kasno warga Sabiroto kepada media, Senin (6/1/2025).

Menurutnya, putusnya akses jalan akibat jembatan ambrol sangat berpengaruh dengan aktivitas warga yang rata-rata bekerja sebagai petani disekitar lokasi tersebut.

“Jembatan itu merupakan akses utama kegiatan bidang pertanian. Semoga pemerintah Desa dan juga Bupati Sragen mendengar keluhan sebagian petani ini,” harapnya.

Hal yang sama dikeluhkan Wandi warga Desa Pare lainnya mengatakan, semenjak jembatan hilang, sejumlah petani harus memanggul pupuk untuk bisa sampai di pematang sawah. Ia menyebut jika kendaran sepeda pengangkut pupuk tidak bisa sampai lokasi.

“Jarak dari rumah ke sawah sekitar 1 kilometer, terpaksa kendaran diparkir dekat jembatan yang putus, pupuknya terpaksa kita panggul,” ungkap pria paruh baya yang sehari hari bekerja sebagai petani tersebut.

“Bulan Maret nanti panen raya, jika jembatan belum ada, ya sedikit repot karena tidak ada akses jalan untuk mengangkut hasil panen,” imbuhnya.

Terpisah, Sekretaris Desa (Sekdes) Pare, Aris mengatakan, rencana pembangunan jembatan penghubung Pare-Biroto-Sono akan dianggarkan menggunakan Dana Desa (DD) program ketahanan pangan tahun 2025 ini. Namun alokasi anggaran yang tersedia hanya cukup untuk pembangunan satu item pekerjaan.

“Sementara kejadian bencana kemarin banyak fasilitas yang rusak seperti gorong-gorong, longsoran jalan serta ratusan meter talud jalan juga ambrol,” katanya.

Pihaknya berharap, jika Pemerintah Kabupaten juga dapat ikut membantu kesulitan yang dialami oleh Pemerintah Desa Pare mengingat anggaran dana desa (DD) sangat terbatas. Aris menyebut, rencana alokasi pembangunan jembatan sudah menghilangkan beberapa kegiatan yang sudah tersusun ditahun anggaran sebelumnya.

“Pihak Desa sudah merencanakan pengurangan kegiatan yang sudah tersusun, untuk dialokasikan penanganan jembatan,” tandasnya.

Diketahui sebelumnya, laporan kejadian dampak hujan deras disertai angin kencang dan petir terjadi pada hari ini Sabtu, 23 November 2024 lalu menyebabkan Desa Pare bangunan jembatan penghubung dukuh Pare dengan Sambiroto hanyut terbawa arus air sungai.

Selain itu, sejumlah ruas jalan permukiman warga mengalami penyempitan akibat longsoran bahu jalan, beberapa pohon jati berumur puluhan tahun juga ikut tumbang akibat peristiwa itu.

Pasca kejadian itu, diketahui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten Sragen sempat melakukan Assesment dilokasi kejadian dampak kerugian teredtimasi sekitar 750 juta. Namun hingga kini belum ada kepastian tindak lanjut penanganan bencana tersebut. (Masrikin).

Responsive Images

You cannot copy content of this page